Breaking News
Trending Tags

Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas Guguran 2 Km, Status Masih Siaga Level III

  • account_circle Atep Hilmansyah
  • calendar_month Senin, 13 Jul 2026 11:36 WIB
  • visibility 105
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sleman, Hasanah.id- Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik pada Senin, 13 Juli 2026. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan terjadi awan panas guguran yang meluncur sejauh sekitar 2 kilometer. Meski demikian, hingga saat ini status Gunung Merapi masih berada di Level III atau Siaga.

Berdasarkan laporan BPPTKG, awan panas guguran terjadi pada pukul 05.09 WIB. Luncuran material vulkanik bergerak ke arah barat daya menuju hulu Kali Krasak dan ke arah selatan menuju hulu Kali Boyong. Peristiwa tersebut tercatat memiliki amplitudo maksimum 19,52 mm dengan durasi sekitar 109,99 detik.

Menyusul peningkatan aktivitas tersebut, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di kawasan yang masuk dalam zona potensi bahaya. Warga juga diimbau menjauhi alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi karena berpotensi menjadi jalur luncuran awan panas maupun material vulkanik.

BPPTKG menjelaskan, meskipun terjadi awan panas guguran, evaluasi terbaru masih menetapkan status Gunung Merapi pada Level III atau Siaga. Ancaman utama saat ini berupa guguran lava dan awan panas yang berpotensi mengarah ke sektor selatan hingga barat daya.

Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Sungai Boyong dengan jarak maksimum 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga sejauh 7 kilometer. Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya berada di Sungai Woro dengan jarak maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.

Menurut Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso, suplai magma ke tubuh Gunung Merapi masih terus berlangsung. Kondisi tersebut membuat peluang terjadinya guguran lava maupun awan panas masih cukup tinggi, khususnya di kawasan yang telah ditetapkan sebagai daerah rawan bencana.

Selain aktivitas vulkanik, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi banjir lahar apabila hujan turun di kawasan puncak. Material vulkanik yang terbawa aliran sungai dapat meningkatkan risiko bencana di wilayah hilir, terutama di sepanjang sungai yang berhulu di Gunung Merapi.

BPPTKG juga mengingatkan warga lereng gunung agar bersiap menghadapi kemungkinan hujan abu apabila terjadi erupsi yang lebih besar. Penggunaan masker serta membatasi aktivitas di luar ruangan menjadi langkah antisipasi untuk mengurangi dampak paparan abu vulkanik.

Pemantauan terhadap aktivitas Gunung Merapi terus dilakukan selama 24 jam. BPPTKG mengimbau masyarakat agar selalu mengikuti informasi resmi dari lembaga tersebut maupun pemerintah daerah, serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Apabila terjadi peningkatan aktivitas yang signifikan, evaluasi terhadap status Gunung Merapi akan segera dilakukan.

Ikuti Kami Di:
Hasanah di Google News

  • Penulis: Atep Hilmansyah
expand_less