Breaking News
Trending Tags

Usai Bertemu Putin, Trump Desak Ukraina Serahkan Donbas demi Akhiri Perang

  • account_circle Hasanah 014
  • calendar_month Senin, 18 Agt 2025 01:48 WIB
  • visibility 117
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

HASANAH.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat gempar sekutu Barat setelah pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska, Jumat (15/8/2025). Alih-alih menekankan gencatan senjata, Trump justru mendorong agar Ukraina menyerahkan sebagian wilayahnya kepada Rusia sebagai jalan menuju perdamaian.

Trump diketahui mendorong Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky agar menyetujui penyerahan wilayah Donbas, termasuk bagian Donetsk yang belum sepenuhnya dikuasai Rusia. Sebagai imbalannya, Putin menjanjikan penghentian tembakan di garis pertempuran dan memberikan jaminan tertulis bahwa Rusia tidak akan menyerang Ukraina maupun negara Eropa lainnya.

Trump menyampaikan bahwa usulan itu layak dipertimbangkan dan menilai kesepakatan damai semakin dekat, meski belum tentu diterima oleh Ukraina.

“Saya pikir kita sudah cukup dekat dengan sebuah kesepakatan. Ukraina harus menyetujuinya. Mungkin mereka akan mengatakan ‘tidak’,” ujarnya dalam wawancara dengan Fox News.

Ia juga menegaskan alasan desakannya kepada Kyiv, dengan menekankan ketimpangan kekuatan antara kedua negara.

“Lihat, Rusia adalah kekuatan yang sangat besar, dan mereka (Ukraina) bukan,” tegasnya.

Sikap Trump ini berbeda dengan pernyataannya sebelum bertemu Putin. Sebelumnya, ia menekankan bahwa gencatan senjata menjadi syarat mutlak sebelum perdamaian. Namun, usai pertemuan tiga jam di Alaska, Trump menuliskan pandangan berbeda melalui Truth Social.

“Telah ditentukan oleh semua pihak bahwa cara terbaik mengakhiri perang yang mengerikan ini adalah langsung menuju perjanjian damai, bukan sekadar perjanjian gencatan senjata, yang sering kali tidak bertahan lama,” tulisnya.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky langsung menolak tekanan tersebut. Ia menilai penghentian pertempuran wajib ditempuh sebelum ada pembicaraan damai.

“Menghentikan pembunuhan adalah elemen kunci untuk menghentikan perang,” jelasnya melalui X.

Zelensky menambahkan, menyerahkan wilayah Ukraina tidak mungkin dilakukan tanpa perubahan konstitusi. Ia menyebut kota-kota strategis seperti Sloviansk dan Kramatorsk adalah benteng pertahanan penting terhadap ancaman serangan Rusia yang lebih luas. Meski kecewa atas hasil KTT Alaska, Zelensky tetap dijadwalkan bertemu Trump di Gedung Putih pada Senin.

“ Kami akan membahas semua detail mengenai bagaimana menghentikan perang dan pembunuhan,” ujarnya.

Respons keras datang dari negara-negara Eropa. Inggris, Prancis, dan Jerman menegaskan tidak akan menerima konsep perdamaian tanpa gencatan senjata, bahkan menyatakan siap memperkuat sanksi ekonomi terhadap Moskwa.

Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul bahkan membuka kemungkinan pemimpin Eropa ikut hadir dalam pertemuan Trump-Zelensky di Washington. Sementara itu, mantan duta besar Jerman untuk AS, Wolfgang Ischinger, menilai pertemuan tersebut lebih menguntungkan bagi Putin.

“Putin mendapat karpet merah dari Trump, sementara Trump tidak mendapat apa-apa,” tulisnya di X.

Perubahan sikap Trump dinilai memberi keuntungan besar bagi Rusia, yang kini tengah unggul di medan perang. Dengan menyingkirkan opsi gencatan senjata, pasukan Moskwa berpeluang memperkuat posisi di garis depan sebelum kesepakatan damai final tercapai.

Putin pun tidak mengendurkan tuntutannya, termasuk veto terhadap keinginan Ukraina masuk NATO. Namun, bagi Kremlin, sekadar bisa duduk sejajar dengan Trump sudah dianggap kemenangan simbolis, mengingat Putin sempat diasingkan oleh pemimpin Barat sejak invasi besar-besaran pada Februari 2022.

Ikuti Kami Di:
Hasanah di Google News

  • Penulis: Hasanah 014
expand_less