Breaking News
Trending Tags

Sri Mulyani Jadi Korban Deepfake, Bantah Sebut Guru Beban Negara

  • account_circle Hasanah 014
  • calendar_month Rabu, 20 Agt 2025 12:10 WIB
  • visibility 110
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

HASANAH.ID – Kasus penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) kembali mencuat setelah Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadi korban manipulasi deepfake. Sebuah video yang tersebar luas di media sosial menampilkan potongan pernyataannya seolah-olah menyebut guru sebagai beban negara, padahal pernyataan itu tidak pernah ia sampaikan.

Sri Mulyani menegaskan bahwa video yang beredar bukanlah pernyataan aslinya, melainkan hasil rekayasa digital dan potongan pidato yang tidak utuh ketika dirinya hadir di Forum Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia di ITB pada 7 Agustus lalu.

“Faktanya, saya tidak pernah menyatakan bahwa Guru sebagai Beban Negara. Video tersebut adalah hasil deepfake dan potongan tidak utuh dari pidato saya dalam Forum Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia di ITB pada 7 Agustus lalu,” tegasnya.

Sebelumnya, unggahan video di media sosial telah memicu sentimen negatif publik terhadap pidato Sri Mulyani. Masyarakat menyoroti ucapannya mengenai tanggungan gaji guru yang dikaitkan dengan kondisi keuangan negara.

Ia menekankan bahwa persoalan gaji pendidik sering dipandang sebagai tantangan dalam pengelolaan anggaran negara, bukan karena profesi guru dianggap tidak penting.

“Banyak di media sosial saya selalu mengatakan, menjadi dosen atau menjadi guru tidak dihargai karena gajinya nggak besar, ini salah satu tantangan bagi keuangan negara,” jelasnya.

Fenomena deepfake sendiri belakangan semakin marak digunakan untuk tujuan manipulatif. Teknologi ini memanfaatkan algoritma pembelajaran mendalam (deep learning) untuk menghasilkan rekaman video maupun audio yang terlihat nyata, meskipun tidak pernah benar-benar terjadi.

Cristina Lopez, analis senior di perusahaan riset aliran informasi digital Graphika, pernah menjelaskan bahwa deepfake diciptakan melalui komputer yang dilatih menggunakan ribuan gambar sehingga mampu menciptakan rekaman sintetis menyerupai kenyataan.

“Deepfake adalah rekaman yang dihasilkan oleh komputer yang telah dilatih melalui gambar-gambar yang tak terhitung jumlahnya,” ujarnya.

Menurut Britannica, istilah deepfake muncul dari gabungan kata ‘deep’ yang merujuk pada teknologi deep learning, serta ‘fake’ yang berarti palsu. Penggunaan istilah ini pertama kali populer pada 2017 lewat sebuah forum di Reddit, ketika moderatornya menyebarkan video manipulasi wajah selebritas dalam konten pornografi.

Deepfake biasanya dihasilkan dari dua algoritma berbeda. Satu algoritma bertugas menciptakan gambar sintetis, sedangkan yang lain mendeteksi perbedaan dengan konten asli. Proses ini dilakukan berulang-ulang hingga perbedaan sulit dikenali oleh sistem.

Selain visual, suara seseorang juga dapat ditiru melalui deepfake dengan memanfaatkan rekaman audio asli yang dilatih pada model AI, sehingga memungkinkan pemalsuan percakapan yang seolah nyata.

Pakar menilai, teknologi ini kerap digunakan untuk tujuan negatif, termasuk penyebaran disinformasi dan manipulasi isu politik, sehingga berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Ikuti Kami Di:
Hasanah di Google News

  • Penulis: Hasanah 014
expand_less