BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem untuk Bali
- account_circle Angga Wijaya
- calendar_month Kamis, 12 Feb 2026 23:06 WIB
- visibility 177
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DENPASAR, Hasanah.id -Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar mengeluarkan peringatan dini potensi cuaca ekstrem di Bali yang diprakirakan terjadi pada 11–17 Februari 2026.
Peringatan ini menyusul meningkatnya dinamika atmosfer yang berpotensi memicu hujan lebat disertai angin kencang dan kilat atau petir di sebagian besar wilayah Pulau Dewata.
Kepala BMKG Wilayah III Denpasar, Cahyo Nugroho, dalam keterangan resminya pada Rabu, 11 Februari 2026, menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipengaruhi oleh menguatnya Monsun Asia yang berdampak pada peningkatan suplai massa udara basah ke wilayah Bali. Selain itu, terdapat daerah pertemuan dan belokan angin (konvergensi) di sekitar Bali yang mendukung proses pertumbuhan awan hujan secara signifikan.
“Kondisi tersebut mendukung pertumbuhan awan hujan yang signifikan di wilayah Bali,” ujar Cahyo.
Ia menambahkan, kelembapan udara yang tinggi hingga lapisan atas atmosfer turut memperkuat potensi terbentuknya awan konvektif yang dapat menghasilkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam durasi tertentu. Kondisi ini diperkirakan terjadi secara merata, meskipun intensitas dan dampaknya bisa berbeda di setiap wilayah.
BMKG memprakirakan potensi hujan lebat dan angin kencang dapat terjadi di Kabupaten Badung, Kota Denpasar, Tabanan, Jembrana, Bangli, Gianyar, Karangasem, Klungkung, dan Buleleng. Wilayah dengan topografi perbukitan dan daerah aliran sungai diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan banjir, banjir bandang, maupun tanah longsor.
Selain potensi hujan lebat di daratan, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi di sejumlah perairan sekitar Bali. Tinggi gelombang diperkirakan mencapai 1,25 hingga 2,5 meter di Selat Bali bagian selatan, Selat Badung, Selat Lombok bagian selatan, dan perairan selatan Bali.
Kondisi tersebut dinilai berisiko terhadap keselamatan pelayaran, khususnya perahu nelayan dan kapal berukuran kecil. Operator transportasi laut dan pelaku wisata bahari juga diminta memperhatikan pembaruan informasi cuaca sebelum melakukan aktivitas di laut.
“Peringatan dini ini kami sampaikan agar masyarakat dapat melakukan langkah antisipasi dan mengurangi risiko dampak yang mungkin terjadi,” kata Cahyo.
BMKG mengimbau masyarakat untuk memastikan lingkungan sekitar dalam kondisi aman, seperti membersihkan saluran drainase agar tidak tersumbat, memangkas dahan pohon yang rapuh, serta menghindari berteduh di bawah pohon saat hujan disertai angin kencang dan petir. Warga yang tinggal di daerah rawan longsor juga diminta lebih waspada terutama saat hujan turun dalam durasi lama.
Sebagai langkah mitigasi, BMKG meminta masyarakat terus memantau perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi, termasuk situs web BMKG, aplikasi Info BMKG, serta media sosial resmi BMKG Wilayah III Denpasar. Informasi yang akurat dan terkini dinilai penting untuk mencegah kesalahpahaman maupun penyebaran informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan dikeluarkannya peringatan dini ini, BMKG berharap seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah dapat meningkatkan kesiapsiagaan selama periode 11–17 Februari 2026. BMKG menegaskan bahwa kewaspadaan dan langkah antisipatif sejak dini menjadi kunci untuk meminimalkan potensi kerugian akibat cuaca ekstrem. (AWJ)
- Penulis: Angga Wijaya




