Viral Penjaga Kursi Pijat Nangis Dituduh Hilangkan Gelang di Hari Pertama Kerja
- account_circle Friska Putri Aryananta
- calendar_month 04 Maret 2026, 11:25 WIB
- visibility 134
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
GUBENG, Hasanah.id – Kasus penjaga kursi pijat yang menangis saat bertugas mendadak viral di media sosial. Peristiwa ini terjadi di Stasiun Surabaya Gubeng pada 2 Maret 2026 dan memicu perdebatan luas di ruang publik.
Seorang pria yang bekerja sebagai penjaga kursi pijat terlihat sesenggukan setelah diduga mendapat tekanan dari konsumen yang mengaku kehilangan gelang emas di area tempatnya bekerja. Video kejadian tersebut menyebar cepat dan mengundang simpati warganet.
Kronologi Viral Penjaga Kursi Pijat
Insiden bermula ketika seorang konsumen melaporkan kehilangan gelang emas setelah menggunakan fasilitas kursi pijat. Tuduhan itu mengarah pada pria yang bertugas menjaga area tersebut.
Akibat laporan tersebut, pria yang diketahui baru pertama kali bekerja itu diduga mengalami tekanan hebat hingga tak kuasa menahan tangis saat menjalankan tugasnya. Video yang merekam momen tersebut langsung viral dan memantik reaksi publik.
Namun, cerita tak berhenti di situ.
Rekaman CCTV dan Klarifikasi Keluarga
Fakta baru muncul dari pihak keluarga. Melalui kolom komentar di media sosial, seseorang yang mengaku sebagai kakak korban memberikan klarifikasi.
Ia menyebut bahwa adiknya masih dalam tahap belajar dan baru pertama kali bekerja sebagai penjaga kursi pijat.
Tak hanya itu, keluarga juga mengklaim telah melihat rekaman CCTV di lokasi kejadian.
Menurut penjelasan mereka, rekaman tersebut menunjukkan bahwa konsumen hanya mengenakan satu gelang saat datang. Namun, konsumen tetap bersikeras merasa kehilangan satu gelang dan mengaku memakai dua gelang.
Situasi itu disebut membuat pria tersebut semakin tertekan.
“Kami memang orang tidak punya, tapi kami bukan m*ling,” tulis sang kakak yang merasa sakit hati atas perlakuan tidak adil terhadap adiknya.
- Penulis: Friska Putri Aryananta
