Jusuf Kalla Usul Harga BBM Naik agar Orang Tidak Menggunakan Seenaknya
- account_circle Friska Putri Aryananta
- calendar_month 05 April 2026, 07:19 WIB
- visibility 235
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Hasanah.id – Nama Jusuf Kalla kembali jadi sorotan setelah melontarkan pandangan yang cukup berani terkait harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Di tengah upaya pemerintah menjaga stabilitas harga energi, ia justru mendorong agar harga BBM mengikuti mekanisme pasar internasional.
Menurut Jusuf Kalla, harga BBM yang terlalu murah justru membawa dampak negatif, terutama dalam pola konsumsi masyarakat. Ia menilai harga energi seharusnya mencerminkan kondisi global yang saat ini tengah mengalami kenaikan signifikan.
Seperti diketahui, harga minyak mentah dunia telah menembus angka 100 dolar AS per barel. Lonjakan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada pasokan energi global.
Dalam pernyataannya, JK menyoroti perilaku masyarakat yang cenderung boros ketika harga BBM rendah. Ia bahkan mengaitkan hal tersebut dengan meningkatnya kemacetan di kota-kota besar.
“Kalau BBM murah, orang akan bepergian seenaknya, memakai seenaknya,” ujar JK dalam pernyataannya, Rabu, 1 April 2026.
Ia menjelaskan bahwa harga energi yang tidak mencerminkan kondisi pasar global membuat masyarakat kurang terdorong untuk mengontrol penggunaan BBM.
Selain soal konsumsi, Jusuf Kalla juga menyinggung besarnya beban subsidi energi yang harus ditanggung negara. Ia mengingatkan bahwa kebijakan harga yang tidak disesuaikan berpotensi menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Dengan menaikkan harga, subsidi bisa berkurang dan fiskal tidak terlalu terbebani,” katanya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa penyesuaian harga BBM tidak hanya soal energi, tetapi juga berkaitan erat dengan kesehatan fiskal negara.
JK juga berpandangan bahwa kenaikan harga BBM bisa menjadi dorongan bagi masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan energi. Ia menilai sebagian besar pengguna BBM merupakan pemilik kendaraan pribadi yang secara ekonomi relatif mampu.
Dengan demikian, kebijakan harga yang lebih realistis dianggap mampu menciptakan keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan kemampuan negara dalam mengelola anggaran.
- Penulis: Friska Putri Aryananta



