Breaking News
Trending Tags

Gunung Semeru Kembali Erupsi, Kolom Abu Membubung 1.000 Meter Pagi Ini

  • account_circle Hasanah Team
  • calendar_month 08 April 2026, 13:03 WIB
  • visibility 49
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hasanah.id –Aktivitas vulkanik Gunung Semeru di perbatasan Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan peningkatan yang signifikan. Pada Rabu pagi (8/4/2026), gunung api tertinggi di Pulau Jawa ini dilaporkan mengalami erupsi dengan tinggi kolom abu mencapai 1.000 meter di atas puncak. Peristiwa ini kembali mengingatkan masyarakat akan tingginya potensi bahaya dari gunung yang dikenal aktif sepanjang tahun tersebut.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, mengonfirmasi bahwa letusan tersebut terjadi tepat pada pukul 07.04 WIB. Berdasarkan hasil pemantauan visual, kolom abu yang dihasilkan tampak berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas yang cukup tebal. Arah sebaran abu terpantau condong ke Barat Daya, mengikuti arah angin saat erupsi berlangsung. Jika dihitung dari permukaan laut, tinggi kolom abu tersebut diperkirakan mencapai sekitar 4.676 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Menurut data seismograf, erupsi ini terekam dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan berlangsung selama kurang lebih 100 detik. Durasi ini tergolong cukup lama untuk sebuah letusan eksplosif, yang menunjukkan adanya tekanan gas yang cukup kuat di dalam perut gunung. Aktivitas ini juga menjadi indikator bahwa suplai magma ke permukaan masih terus berlangsung.

Menariknya, erupsi yang terjadi pada pukul 07.04 WIB bukanlah satu-satunya aktivitas pada pagi hari itu. Sebelumnya, sekitar pukul 05.30 WIB, Gunung Semeru sudah lebih dulu mengalami erupsi dengan tinggi kolom abu mencapai 700 meter ke arah Barat. Dua kali erupsi dalam rentang waktu yang relatif berdekatan ini menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Semeru sedang berada dalam fase fluktuatif, di mana tekanan di dalam gunung belum sepenuhnya stabil.

Hingga saat ini, status Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga. Status ini menandakan bahwa aktivitas gunung cukup tinggi dan berpotensi menimbulkan bahaya sewaktu-waktu. Oleh karena itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengeluarkan imbauan serta larangan demi menjaga keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan gunung.

Untuk sektor Tenggara, masyarakat dan wisatawan dilarang keras melakukan aktivitas apa pun di sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari pusat erupsi. Wilayah ini menjadi jalur utama aliran awan panas guguran yang sewaktu-waktu bisa meluncur dengan kecepatan tinggi. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk menjaga jarak minimal 500 meter dari sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Hal ini penting karena potensi perluasan awan panas dan aliran lahar dapat mencapai jarak hingga 17 kilometer dari puncak.

Tidak hanya itu, radius steril sejauh 5 kilometer dari kawah atau puncak juga diberlakukan secara ketat. Larangan ini bertujuan untuk menghindari bahaya lontaran material vulkanik seperti batu pijar yang dapat membahayakan jiwa. Batu pijar yang terlontar saat erupsi dapat mencapai jarak yang cukup jauh dan memiliki suhu sangat tinggi.

Selain ancaman langsung dari erupsi, masyarakat juga diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas guguran serta banjir lahar dingin. Risiko ini akan semakin meningkat terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi di kawasan puncak. Material vulkanik yang menumpuk dapat terbawa aliran air dan berubah menjadi lahar yang berbahaya.

Beberapa daerah aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru, seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, menjadi titik krusial yang harus terus dipantau. Warga yang tinggal di sekitar aliran sungai tersebut, termasuk anak-anak sungai kecil, diminta untuk tetap siaga dan tidak lengah terhadap perubahan kondisi alam yang bisa terjadi secara tiba-tiba.

Pihak berwenang juga mengingatkan pentingnya mengikuti informasi resmi dari instansi terkait, seperti PVMBG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Informasi yang akurat dan terkini sangat penting untuk menghindari kepanikan serta meminimalkan risiko korban jiwa.

Dengan kondisi aktivitas yang masih dinamis, masyarakat diharapkan tidak melakukan aktivitas berisiko di zona terlarang dan selalu memprioritaskan keselamatan. Gunung Semeru memang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sekitar, namun kewaspadaan tetap harus menjadi hal utama di tengah potensi bencana yang bisa terjadi kapan saja.

Ikuti Kami Di:
Hasanah di Google News

  • Penulis: Hasanah Team
  • Editor: redaksi hasanah.id
expand_less