Breaking News
Trending Tags

Alarm Merah Industri Hijau: Krisis Sulfur Membayangi Masa Depan Baterai Kendaraan Listrik

  • account_circle Hasanah Team
  • calendar_month 09 April 2026, 10:45 WIB
  • visibility 46
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jakarta, Hasanah.id– Di tengah ambisi global untuk beralih ke energi bersih, sebuah tantangan besar justru muncul dari ketersediaan bahan baku yang selama ini sering luput dari perhatian. Bukan hanya soal nikel atau litium, kini dunia tengah dihadapkan pada ancaman nyata: krisis sulfur atau belerang. Kelangkaan unsur kimia ini diprediksi akan menjadi kerikil tajam dalam sepatu industri bahan baku baterai yang tengah melesat.

Hasanah.id mencatat bahwa situasi ini menjadi ironi bagi gerakan ramah lingkungan. Di satu sisi kita ingin mengurangi ketergantungan pada energi fosil, namun di sisi lain, bahan baku untuk memproses energi bersih tersebut justru kian sulit didapatkan.

Sulfur: Pahlawan Tersembunyi di Balik Baterai

Mengapa sulfur begitu krusial? Belerang merupakan komponen utama dalam pembuatan asam sulfat, sebuah cairan “ajaib” yang digunakan secara masif dalam proses pemurnian nikel dan kobalt—dua material inti baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV). Tanpa pasokan sulfur yang stabil, rantai produksi baterai dunia bisa mengalami hambatan serius.

Ironisnya, krisis ini justru merupakan dampak sampingan dari upaya dunia mengurangi polusi udara. Sebagian besar sulfur dunia saat ini diperoleh dari hasil sampingan pemurnian minyak bumi dan gas alam. Seiring dengan kampanye dekarbonisasi dan penurunan penggunaan bahan bakar fosil, produksi sulfur secara otomatis ikut merosot tajam. Kita tengah menghadapi situasi di mana “obat” untuk polusi justru membuat pasokan bahan bakunya menghilang.

Ikuti Kami Di:
Hasanah di Google News

  • Penulis: Hasanah Team
expand_less