Breaking News
Trending Tags

Dampak Psikologis Korban Pelecehan Seksual Sangat Mendalam, Begini Penjelasan Psikolog Terkait Trauma yang Dialami

  • account_circle MFC Team
  • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026 16:45 WIB
  • visibility 189
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hasanah.id – Isu kekerasan seksual belakangan ini kian marak diperbincangkan, namun sering kali publik melupakan sisi fundamental dari peristiwa tersebut, yakni kondisi kejiwaan penyintas.

Memahami dampak psikologis korban pelecehan seksual menjadi hal yang sangat krusial bagi masyarakat agar tidak lagi memberikan stigma negatif kepada mereka yang sedang berjuang memulihkan diri.

Trauma yang dialami bukan sekadar luka fisik yang bisa mengering, melainkan luka batin yang merobek fondasi kesehatan mental seseorang hingga jangka panjang.

Menurut para ahli kesehatan mental, dampak psikologis korban pelecehan seksual sering kali muncul dalam bentuk yang beragam dan sangat kompleks.

Seorang psikolog klinis menekankan bahwa setiap individu memiliki respons yang berbeda terhadap trauma, namun benang merah yang ditarik selalu bermuara pada gangguan kecemasan yang ekstrem.

Kondisi ini membuat korban sulit menjalani aktivitas sehari-hari secara normal karena dihantui oleh bayang-bayang masa lalu yang kelam.

Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD) yang Menghantui

Salah satu manifestasi paling nyata dari dampak psikologis korban pelecehan seksual adalah munculnya Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), penyintas sering kali mengalami kilas balik (flashback) atau mimpi buruk yang intens terkait peristiwa tersebut.

Hal ini menyebabkan sistem saraf mereka selalu berada dalam kondisi “siaga” atau fight-or-flight, yang tentu saja sangat melelahkan secara mental maupun fisik.

Keadaan ini menunjukkan betapa seriusnya beban yang dipikul oleh korban pelecehan seksual dalam keseharian mereka.

Tidak hanya itu, dampak psikologis korban pelecehan seksual juga sering melibatkan mekanisme pertahanan diri yang ekstrem, seperti disosiasi.

Disosiasi adalah kondisi di mana korban merasa terpisah dari tubuh atau realitasnya sendiri sebagai cara otak untuk melindungi diri dari rasa sakit yang tak tertahankan.

Jika tidak ditangani oleh profesional, kondisi trauma yang dialami penyintas pelecehan ini dapat berkembang menjadi depresi berat yang berujung pada keinginan untuk menyakiti diri sendiri.

Ikuti Kami Di:
Hasanah di Google News

  • Penulis: MFC Team
expand_less