Rupiah Anjlok ke 17.600, Presiden Prabowo: Rakyat Desa Gak Pakai Dolar!
- account_circle Atep Hilmansyah
- calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026 20:20 WIB
- visibility 95
- comment 0 komentar
- print Cetak

Rupiah Anjlok ke 17.600, Presiden Prabowo: Rakyat Desa Gak Pakai Dolar! (freepik)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Bandung, Hasanah.id- Presiden Prabowo Subianto memberikan tanggapan terkait rupiah anjlok terhadap dolar Amerika Serikat yang belakangan menjadi sorotan publik.
Meski nilai tukar rupiah terus melemah, Prabowo menegaskan kondisi ekonomi Indonesia masih tetap terkendali.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo setelah meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Sabtu (16/5/2026).
Prabowo Bicara soal Rupiah Anjlok dan Prediksi Indonesia Akan Collapse
Dalam sambutannya, Prabowo menyinggung adanya pihak-pihak yang terus memprediksi Indonesia akan mengalami kehancuran setiap kali terjadi rupiah anjlok atau gejolak ekonomi global.
“Sekarang ada yang selalu sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan keos, akan apa, rupiah begini, dolar begini,” ujar Prabowo.
Menurutnya, kondisi yang digambarkan sebagian pihak tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan yang dialami masyarakat sehari-hari.
Prabowo mengatakan masyarakat di pedesaan tidak menggunakan dolar AS dalam transaksi harian, sehingga dampak rupiah anjlok tidak dirasakan secara langsung oleh sebagian besar rakyat.
“Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok,” kata Prabowo.
Ia menambahkan, kebutuhan dasar masyarakat hingga saat ini tetap tersedia dengan baik. Menurutnya, selama pasokan pangan dan energi aman, Indonesia masih berada dalam kondisi stabil.
“Pangan aman, energi aman, banyak negara panik, Indonesia masih oke,” lanjutnya.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat sempat menyentuh Rp17.600 per dolar AS pada Jumat (16/5/2026). Level tersebut menjadi salah satu titik terlemah rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi rupiah anjlok itu memicu perhatian berbagai pihak karena dinilai dapat memengaruhi sejumlah sektor ekonomi, termasuk biaya impor dan subsidi pemerintah.
Meski rupiah anjlok menjadi perhatian publik, Prabowo menegaskan bahwa pemerintah tetap optimistis terhadap kondisi perekonomian nasional.
Ia menilai indikator utama seperti ketahanan pangan dan energi masih terjaga dengan baik. Karena itu, Indonesia dinilai tetap mampu menghadapi tekanan ekonomi global tanpa mengalami gangguan yang signifikan.
- Penulis: Atep Hilmansyah




