Breaking News
Trending Tags

Nilai Tukar Rupiah Terpuruk ke Level Rp17.728 per Dolar AS, Sinyal Bahaya bagi Ekonomi Nasional

  • account_circle MFC Team
  • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026 15:23 WIB
  • visibility 236
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Euforia Krisis Geopolitik Timur Tengah dan Dampaknya pada Energi

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menjelaskan bahwa pasar saat ini masih terjebak dalam euforia dampak konflik Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Ketika sentimen negatif ini meluas, nilai tukar rupiah terpuruk ke level Rp17.728 per dolar AS karena investor cenderung memburu aset aman (safe haven) seperti dolar Amerika. Kenaikan harga minyak mentah dunia yang melampaui ambang batas normal secara langsung menekan neraca perdagangan negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia.

Meroketnya Yield Oblasi Pemerintah Amerika Serikat ke Rekor Tertinggi

Kenaikan ekspektasi inflasi di negeri Paman Sam secara otomatis mendorong tingkat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) ke level tertinggi baru sepanjang tahun ini. Situasi pelarian modal (capital outflow) ini menjelaskan mengapa nilai tukar rupiah terpuruk ke level Rp17.728 per dolar AS dengan sangat cepat. Tercatat, yield obligasi AS untuk tenor 2 tahun kini bertengger di posisi 4,105 persen, tenor 10 tahun menyentuh 4,631 persen, dan untuk tenor 30 tahun melesat hingga mencapai angka 5,159 persen.

Dampak Guncangan Kurs Terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)

Melambungnya harga dolar AS secara otomatis memberikan tekanan struktural yang sangat berat bagi postur anggaran belanja pemerintah pusat. Kenyataan bahwa nilai tukar rupiah terpuruk ke level Rp17.728 per dolar AS memaksa pemerintah untuk mengkaji ulang alokasi dana subsidi energi, khususnya untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG). Pembengkakan biaya impor minyak mentah akibat melemahnya kurs dapat memicu defisit anggaran yang lebih besar jika tidak segera diantisipasi dengan kebijakan taktis.

Ikuti Kami Di:
Hasanah di Google News

  • Penulis: MFC Team
expand_less