Breaking News
Trending Tags

Rupiah Menguat di Awal Perdagangan, Didukung Optimisme Pemerintah dan Pasar

  • account_circle Bobby Suryo
  • calendar_month Rabu, 15 Okt 2025 14:43 WIB
  • visibility 154
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hasanah.id – Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Rabu (15/10/2025), setelah sempat melemah di sesi penutupan sebelumnya di posisi Rp16.603 per dolar AS.

Menurut data Bloomberg, rupiah naik 0,22 persen atau 36 poin ke level Rp16.567 per dolar AS. Penguatan ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi domestik.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan optimisme bahwa penguatan rupiah masih sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia.

“Pergerakan rupiah yang stabil di sekitar Rp16.534 per dolar AS masih sesuai dengan asumsi APBN, yaitu Rp16.000 per dolar,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita, Selasa (14/10/2025).

Ia menambahkan, meskipun dinamika global dan ketegangan geopolitik tetap menjadi faktor risiko, daya tahan ekonomi nasional yang kuat memberi ruang bagi penguatan rupiah. “Dengan kondisi domestik yang solid, rupiah berpotensi menguat lebih lanjut,” ujarnya.

Purbaya juga memperkirakan kinerja ekonomi nasional akan membaik di kuartal IV.

“Begitu pasar melihat pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, arus modal asing akan kembali masuk, dan itu akan mendorong nilai tukar rupiah,” tegasnya.

Analis pasar uang Lukman Leong turut memproyeksikan tren penguatan rupiah akan berlanjut hari ini, dengan kisaran pergerakan di Rp16.550–Rp16.650 per dolar AS. Ia menjelaskan, faktor utama penguatan rupiah adalah pelemahan dolar AS yang tercermin dari turunnya indeks dolar sebesar 0,13 persen menjadi 98,92, dibandingkan posisi sebelumnya di level 99.

Menurut Lukman, pelemahan dolar terjadi setelah pidato Ketua Federal Reserve Jerome Powell yang bernada kurang hawkish, atau tidak terlalu agresif dalam kebijakan suku bunga.

“Pernyataan Powell menenangkan pasar karena memberi sinyal kemungkinan pemangkasan suku bunga, seiring melemahnya pasar tenaga kerja AS,” jelasnya.

Nada serupa juga disampaikan Presiden The Fed Boston, Susan Collins, yang menilai ruang pelonggaran kebijakan moneter masih terbuka.

“Collins bahkan menilai pemangkasan suku bunga yang lebih besar mungkin diperlukan ke depan,” tutup Lukman.

Ikuti Kami Di:
Hasanah di Google News

  • Penulis: Bobby Suryo
expand_less