Pertumbuhan Kredit UMKM 0,6% Ungkap KLM Belum Efektif
- account_circle khasanah
- calendar_month Selasa, 28 Jul 2026 19:34 WIB
- visibility 62
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pergantian Gubernur BI Tidak Berpengaruh Jika Kebijakan Sama
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, Hasanah.id – Peneliti Hizkia Yosias Polimpung menilai problem utama saat ini adalah buruknya transmisi kebijakan moneter yang menghambat efek kebijakan Bank Indonesia ke sektor riil.
Hizkia, peneliti makroekonomi InFast Bestari dan Monash University Malaysia, menyampaikan hal itu melalui keterangan resmi pada Selasa, 28 Juli 2026.
Ia menegaskan transmisi kebijakan moneter harus menjadi fokus utama agar kebijakan suku bunga dan likuiditas benar-benar dirasakan oleh UMKM dan rumah tangga kelas menengah.
Menurut Hizkia, kelas menengah urban kini semakin terjepit oleh tekanan berganda di sisi moneter dan fiskal.
Kelompok yang menopang sekitar 81 persen konsumsi rumah tangga dan menyumbang 55 persen terhadap produk domestik bruto itu menghadapi beban biaya hidup yang meningkat.
Dari sisi moneter, kenaikan suku bunga acuan berdampak pada meningkatnya cicilan KPR, kredit kendaraan bermotor, dan layanan buy now pay later.
Di sisi fiskal, program bantuan lebih banyak menyasar kelompok berpendapatan rendah sehingga kelas menengah kerap tak memenuhi syarat penerima.
Hizkia menyebut adanya “kemiskinan yang tersamar di balik stabilitas” setelah melihat beberapa indikator sosial-ekonomi.
Dalam periode 2019 hingga 2023, lebih dari 9 juta orang dilaporkan keluar dari kelompok kelas menengah.
Penulis khasanah
jurnalis dan penulisan konten digital di Hasanah.id yang mengkhususkan diri pada peliputan tren global, gaya hidup modern, dan isu-isu internasional terkini.



