Breaking News
Trending Tags

Sengketa Lahan Bayangi Rencana Reaktivasi Rel Mati di Jabar

  • account_circle hasanah editor
  • calendar_month Sabtu, 29 Sep 2018
  • visibility 672
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Cemas berkepanjangan. Itulah yang dirasakan sebagian besar warga Desa Hegarmanah, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, tentang rencana reaktivasi jalur kereta Rancaekek-Tanjungsari, yang melewati Desa Hegarmanah (belakang Universitas Padjadjaran). Sebab, kabar dihidupkannya kembali jalur kereta itu terdengar sejak belasan tahun lalu, tapi timbul-tenggelam.

Jalur kereta tersebut dioperasikan perusahaan kereta api Belanda, Staatspoorwegen (SS), sejak 1921 untuk mengangkut hasil bumi, seperti teh dan karet, dari wilayah Bandung Timur menuju Pelabuhan Cirebon. Namun, kemudian pada 1942, jalur sepanjang 11,5 kilometer tersebut dimatikan oleh Jepang. Sebagian rel besinya diangkut untuk kepentingan perang menuju Banten.

Dan sejak saat itu lahan bekas jalur kereta api tersebut dikelola warga secara turun-temurun hingga sekarang. “Awitna (awalnya) orang tua kami menanam singkong jengsayur-mayur. Ayena mah ges loba (sekarang sudah banyak) kos kosan. Pemilik kosnya orang luar daerah sini. Dari Jakarta kebanyakan,” kata Ikin, 83 tahun, warga setempat, saat ditemui pekan lalu di Hegarmanah.

Ikin mengaku tidak pernah melihat kereta yang melintas di desanya, apalagi menaikinya. Dia hanya mendengar cerita dari orang tuanya. Menurut cerita orang tuanya, kereta yang melintas di situ bukan kereta penumpang, melainkan lori, kereta berukuran kecil yang lazim digunakan di wilayah perkebunan semasa penjajahan Belanda.

Ikuti Kami Di:
Hasanah di Google News

  • Penulis: hasanah editor
expand_less