ADIKARYA PARLEMENBerita

Memo Hermawan Soroti Konsistensi Pemerintah Terhadap Penanganan Limbah Medis Covid-19

ADIKARYA PARLEMEN

Hasanah.id – Proses pemeriksaan pasien yang diduga atau terjangkit virus corona di Jawa Barat terus meningkat.

Selain fokus pada penanganan pasien, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga berupaya disiplin dalam pengelolaan limbah medis bekas pakai. Salah satunya, Pemprov Jabar telah memerintahkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang bergerak di bidang jasa pengolahan limbah medis, yakni PT Jasa Sarana, melalui PT Jasa Medivest.

Baru ini sebuah foto yang memperlihatkan sampah medis, seperti Alat Pelindung Diri (APD) sejenis Hazmat (baju pelindung) beredar di sejumlah sosial media dan menjadi perbincangan warganet. Hal itu disebabkan sampah medis berada di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) umum.

Menyoroti hal itu, Anggota Komisi IV DPRD Jabar, Memo hermawan meminta kepada pemerintah Jawa Barat untuk mengawasi juga mengedukasi kepada masyarakat untuk lebih peduli dan disiplin terhadap lingkungan disekitarnya.

“Ini tugas kita, sebagai masyarakat menciptakan kedisiplinan dan kesadaran terhadap lingkungan sekitar. Kepada pemerintah seharusnya konsisten menyosialisasikan regulasi dan mengawasi penanganan limbah medis Covid -19 ini bahkan memberikan sanksi berat sebagai upaya mengendalikan lingkungan khususnya pada instansi kesehatan.”  Ujar Memo, Sabtu, 13/06/2020.

Memo menerangkan, peningkatan limbah  medis yang disebabkan oleh Covid-19 juga berpotensi menularkan penyakit.

Hal tersebut dapat berbahaya karena sampah medis yang dihasilkan akan lebih banyak. Seperti plastik medis, sarung tangan, masker yang sekali pakai, jarum suntik, sampah radioaktif, utamanya sampah infeksius yang dapat menularkan penyakit berbahaya.

“Mengenai limbah ini mestinya dapat ditangani dengan pengelolaan yang baik dan benar sesuai prosedur yang ditetapkan oleh KLHK,” kata politisi PDI Perjuangan ini.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kata dia, telah mengeluarkan surat edaran tentang Pengelolaan Limbah Infeksius dan sampah rumah tangga dari penanganan Covid-19. Meskipun begitu hal tersebut masih menjadi kendala terhadap lingkungan dan kesehatan.

“Oleh karena itu perlu pengelolaan dengan standar tertentu agar tidak menimbulkan permasalahan baru, karena  petugas persampahan dan pemulung bisa terpapar virus karena limbah infeksius itu,” Tukasnya.

 Sebelumnya, Pemprov Jabar melalui PT Jasa Medivest (Jamed) telah meningkatkan kapasitas penanganan limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) infeksius dari 12 ton per hari menjadi 24 ton per hari mulai April 2020.

Hal itu dilakukan sebagai upaya mengantisipasi lonjakan limbah medis terkait Pandemi Covid-19 di Jabar.

PT Jasa Sarana Hanif Mantiq mengatakan, pihaknya akan terus berupaya membantu pemerintah dalam pengolahan limbah medis, khususnya untuk pasien corona.

“BUMD Jasa Sarana melalui PT Jasa Medivest siap mendukung kelancaran setiap upaya pemerintah, khususnya Pemprov Jabar. Kami bersinergi dengan Satgas Pengendalian Covid-19 di Jawa Barat. Kami merupakan solusi pengolahan limbah medis/B3 infeksius secara proper di Indonesia,” kata Hanif.

Menurut Hanif, ke depannya, BUMD Jasa Sarana akan terus melakukan inovasi dan pengembangan bisnis pengolahan limbah, khususnya pada PT Jasa Medivest.

Melalui teknologi tepat guna, pembangunan incinerator III dan IV di Plant Dawuan akan diupayakan segera, agar dapat menampung limbah secara optimal.

“Kami telah melaksanakan mitigasi risiko dalam pengelolaan limbah B3 infeksius, baik itu pengangkutan, sampai pada pengolahannnya. Contohnya alat pelindung diri (APD) yang dipersiapkan secara khusus,” kata Hanif. (Uwo-)

Tags

Berita Terkait

Back to top button
Close
Close