JABARLIFE STYLELOKALISTIK

Menengok Bumi Adat Cikondang Pangalengan Kab Bandung

Hasanah.id– Bumi adat yang berusia 300 tahun itu merupakan satu-satunya rumah tradisional yang tersisa. Rumah tradisional yang berpondasi bambu dan kayu serta beratap ijuk merupakan tempat bermukim, yang erat kaitannya dengan kebudayaan masyarakat lokal. Rumah adat ini menjadi satu-satunya yang tersisa setelah terjadi kebakaran hebat pada masa kolonial Belanda.

Rumah adat tersebut terdapat di Kampung adat Cikondang Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Luas tanah Kampung Adat itu tiga hektar dengan dimensi panjang 12 meter, lebar 8 meter dan tinggi tiga setengah meter.

Abah Anom Juhana, selaku juru kunci di kampung adat Cikondang Pangalengan

Abah Anom Juhana, selaku juru kunci di kampung adat tersebut menceritakan, awalnya kampung adat tersebut mempunyai 40 rumah adat yang berdiri kokoh. Namun, tahun 1942 kebakaran hebat melanda kampung tersebut dan hanya menyisakan satu rumah, dan rumah inilah yang sekarang menjadi cagar budaya dan dilindungi oleh pemerintah.

Selain rumah adat, warga di kampung adat Cikondang juga masih melestarikan budaya leluhur mereka dan ritual adat. Salah satu ritual utamanya adalah ritual pergantian tahun setiap tanggal 15 Muharam.

Rumah Adat Cikondang Pangaengan

Di kampung adat Cikondang juga terdapat tempat keramat yang biasa disebut oleh warga sekitar sebagai hutan larangan. Konon, hutan ini dulunya tempat musyawarah para wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa Barat dan penyimpanan benda pusaka. Digunakan juga oleh para warga untuk bersembunyi dari kejaran para penjajah pada masa kolonial dulu.

Kampung adat Cikondang ini mempunyai adat istiadat, kearifan lokal serta budaya yang tidak rentan termakan oleh zaman. Kampung adat Cikondang ini hanya bisa dikunjungi di hari-hari tertentu, setiap hari Minggu, Senin, Rabu.

Hari Kamis serta Selasa, Jumat dan Sabtu tidak bisa dikunjungi karena mempunyai adat isitiadat dan ritual di kampung adat tersebut dan hanya bisa dikunjungi untuk keperluan penelitian dan pendidikan, tidak diperkenankan untuk wisatawan.

Itu sejalan dengan pola keseimbangan hidup masyarakat Sunda. Dimana tersirat tuntunan keselarasan hubungan vertikal (interaksi diri dengan Tuhan) dengan hubungan horizontal (interaksi diri dengan sesama makhluk dan alam).

Satu alasan rumah dibuat panggung dan tidak langsung menyentuh tanah, agar tidak mengganggu resapan air. Pasalnya, rumah tradisional Sunda itu terletak di kaki Gunung Tilu, di hulu Sungai Cisangkuy yang bermuara ke Sungai Citarum.

Sehingga pantang mengubah atau meratakan tanah saat akan membangun rumah. Tak adanya rekayasa, bertujuan supaya terhindar dari tanah longsor dan banjir bandang. Meratakan tanah berarti merusak. Jika demikian, akan mengganggu jalannya air hujan.

“Karena penamaan Kampung Cikondang bermula dari kata cai dan kondang, sumber air yang dikenal. Sebuah keharusan menjaganya,” terang Juhana.

Bumi adat yang berdiri di atas lahan tiga hektare ini sudah membagi tata ruang dalam tiga wilayah. Pertama, hutan larangan, ini dijadikan penyangga kawasan yang tak boleh diganggu. Jika masuk ke hutan, diwajibkan tak mengenakan alas apapun. Tujuannya, kata Juhana, demi menanamkan rasa hormat supaya tak berbuat angkara.

Kedua, lahan garapan dijadikan sebagai kawasan pemanfaatan sebagai penghidupan warga, termasuk kolam, ladang dan sawah. Ketiga, kawasan untuk pemukiman dipilih tanah berkontur lebih landai.*

Tags
Back to top button
Close
Close