Mendagri: Pembangunan Dapur MBG Akan Dorong Ekonomi Lokal dan Buka Peluang Kerja Baru
- account_circle Bobby Suryo
- calendar_month Minggu, 21 Sep 2025 11:38 WIB
- visibility 132
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Hasanah.id – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyatakan keyakinannya bahwa pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi bagian penting dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan membawa dampak ekonomi signifikan di berbagai daerah. Menurutnya, kehadiran dapur-dapur MBG ini tak hanya akan menyediakan makanan bergizi bagi masyarakat, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat rantai pasok lokal, serta mempercepat perputaran uang di tingkat daerah.
“Saat ini ada 806 titik lahan yang sudah siap digunakan untuk pembangunan SPPG. Lahannya layak dan mendapat dukungan besar dari pemerintah daerah,” ungkap Tito, Minggu (21/9/2025).
Dari jumlah tersebut, sebanyak 542 titik akan digarap oleh Badan Gizi Nasional (BGN), sementara 264 lokasi lainnya akan dibangun melalui kolaborasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Sejalan dengan hal tersebut, Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Andy Ahmad Zaelany, turut menyoroti potensi besar yang bisa lahir dari pembangunan dapur MBG ini. Ia melihat lokasi-lokasi tersebut dapat berkembang menjadi sentra ekonomi baru, khususnya bagi para petani lokal.
“Dengan catatan, petani harus diberi ruang seluas mungkin untuk berkontribusi dalam ekosistem program ini,” ujar Andy.
Ia menambahkan, kesuksesan program ini sangat tergantung pada bagaimana pemerintah daerah menata kelembagaan dan manajemen pengelolaan pasokan. Andy pun mencontohkan model di Korea Selatan, di mana peran aktif dinas pertanian sangat sentral—dari menjaga kualitas komoditas, mengatur sistem pembelian langsung dari petani, hingga mendistribusikan hasilnya ke institusi seperti sekolah.
Agar manfaat MBG benar-benar dirasakan masyarakat, Andy menegaskan perlunya dua hal utama: kepastian lahan bagi petani dan kejelasan jenis komoditas yang dibutuhkan, serta sistem distribusi yang melibatkan usaha-usaha lokal.
“Jika ini diterapkan dengan baik, maka perputaran uang dalam program MBG akan langsung dinikmati oleh warga. Ini akan membentuk ekosistem ekonomi berbasis masyarakat yang berkelanjutan,” tandasnya.
- Penulis: Bobby Suryo



