Megawati Peringatkan Dampak AI Tanpa Etika: “Jangan Biarkan Teknologi Menghapus Nurani”
- account_circle Bobby Suryo
- calendar_month 2 November 2025
- visibility 125
- comment 0 Komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks untuk kenyamanan membaca.
Pancasila sebagai Penuntun Etika Digital
Dalam pidatonya, Megawati menawarkan Pancasila sebagai kerangka moral universal untuk menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan tanggung jawab sosial.
“Pancasila memadukan dunia materi dan spiritual, antara hak individu dan tanggung jawab sosial. Prinsip itu sangat penting di tengah dunia digital yang kian menuhankan efisiensi,” jelasnya.
Menurut data International Telecommunication Union (ITU) 2025, Indonesia termasuk dalam sepuluh besar negara dengan pertumbuhan AI tercepat di dunia. Namun, hingga kini belum memiliki pedoman hukum dan etika nasional yang komprehensif mengenai AI.
Megawati menyebut kondisi ini sebagai “panggilan moral baru” bagi negara-negara di kawasan Global South. Ia menyerukan pentingnya kepemimpinan global yang tak hanya visioner, tetapi juga berperikemanusiaan.
“Dunia tidak cukup dipimpin oleh negara superpower, tetapi membutuhkan super moral power,” katanya.
Ia menutup pidatonya dengan seruan agar manusia tetap menjadi pusat peradaban.
“Dunia baru bukanlah dunia yang dikendalikan oleh algoritma tanpa hati nurani, tetapi dunia yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Mari kita bangun peradaban yang memuliakan kehidupan, bukan yang tunduk pada mesin dan modal,” pungkasnya.
- Penulis: Bobby Suryo

