Berita

PSBB Kota Cimahi, Dengan Alat Seadanya Karang Taruna Antusias Jaga Pintu Utama

Hasanah.id-Kota Cimahi telah memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) parsial di 13 kelurahan pada Rabu (22/4/2020) pukul 00.01 WIB hingga 6 Mei mendatang. Penerapan PSBB ini telah dituangkan dalam Peraturan Wali Kota Cimahi nomor 14 tahun 2020 tentang PSBB untuk penanganan Covid 19.

Seperti diketahui Wali Kota Cimahi Ajay Muhammad Priatna menjelaskan PSBB parsial yang diterapkan bersifat pembatasan kegiatan tertentu penduduk di suatu wilayah yang terinfeksi COVID-19. Saat ini, kata dia, sudah 13 kelurahan di Kota Cimahi yang terdapat kasus positif. 

Karang Taruan RW 12 Kelurahan Cibabat Cimahi Utara saat menjaga pintu utama masuk ke wilayahnya, Rabu (22/4)

Seperti halnya di Kelurahan Cibabat kecamatan Cimahi Utara Kota Cimahi, berdasarkan data gugus tugas COVID 19 Kota Cimahi di Kelurahan Cibabat ODP 72, positif 4, meninggal 1. Guna memutus mata rantai penyebaran COVID 19 di Kelurahan Cibabat maka di berlakukan penutupan jalan gang. Seperti halnya yang di lakukan di wilayah RW 12 semua jalan gang yang masuk ke wilayah tersebut ditutup.

“Betul pihak ketua RW atas intruksi dari pemerintah Kota Cimahi telah diberlakukan penutupan jalan gang yang masuk ke wilayahnya,”ungkap Ketua Karang Taruna RW 12 Dang Ricky Chandrayana yang sedang menjaga pintu utama masuk ke wilayah RW 12.

Abah sapaan sehari hari Dang Ricky Chandrayana mengatakan dengan adanya penutupan jalan ini, jika di lihat dari segi positifnya warga bisa lebih mengerti tentang virus corona ini dan lebih disiplin soal kebersihan. Tetapi dalam hal ini ada juga warga yang tidak menginginkan dengan adanya penutupan jalan ini.

“Soalnya warga yang lewat gerbang selain di semprot di berikan edukasi perihal masalah virus corona. Dengan di berlakukan penutupan jalan, selain pejalan kaki, warga harus berputar jika akan keluar rumah. Tetapi disamping itu juga anak karang taruna terlihat lebih aktif dari biasanya,”ujarnya.

Kalau dari sisi negatifnya penutupan jalan ini belum begitu efektif, dikarenakan kurangnya SDM. Dan alat pun seadanya, serta personilnya juga belum maksimal.

“Kenapa kurang efektif, karena kalo lewat hanya di semprot dan cuci tangan saja. Bisa jadi orang yang positif dapat lolos masuk ke daerah tersebut. Tetapi kalau ada alat pengecekan alat pengukur suhu tubuh dan kerjasama sama tenaga medisnya petugas penjaga gerbang bisa lebih terisolir,” papar Abah.

“Jadi kalo ada masyarakat yang mempunyai gejala atau tanda tanda terkena virus bisa langsung di tangani,”pungkasnya. kus

Tags

Berita Terkait

Back to top button
Close
Close