Indonesia Batasi Medsos untuk Anak, Meta Ingatkan Bahaya “Situs Gelap”
- account_circle Azhar Ilyas
- calendar_month 07 Maret 2026, 07:05 WIB
- visibility 205
- comment 0 komentar
- print Cetak

Meta ingatkan bahaya situs gelap
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Hasanah.id – Meta merupakan salah satu raksasa teknologi yang kini tengah menjadi pusat perhatian menyusul langkah tegas pemerintah Indonesia dalam memperketat perlindungan anak di internet.
Melalui Peraturan Menteri Nomor 9 Tahun 2026, pemerintah secara resmi akan membatasi akses platform digital bagi remaja di bawah usia 16 tahun. Meski tujuan utamanya adalah demi keamanan, Meta memberikan peringatan mengenai potensi efek samping yang justru bisa membahayakan keamanan data dan psikologis anak-anak di masa depan.
Kebijakan ini merupakan aturan turunan dari PP Tunas yang rencananya akan mulai diimplementasikan secara bertahap pada 28 Maret 2026. Lantas, bagaimana detail aturan ini dan apa saja kekhawatiran yang disampaikan oleh pihak industri?
Aturan Baru Media Sosial 2026 dan PP Tunas
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) telah menetapkan standar baru dalam penggunaan ruang siber. Inti dari regulasi ini adalah menonaktifkan akun milik anak berusia di bawah 16 tahun pada platform digital yang dikategorikan “berisiko tinggi”.
Beberapa platform populer yang masuk dalam radar pembatasan ini antara lain:
- Instagram, Facebook, dan Threads (Grup Meta)
- TikTok dan YouTube
- X (dahulu Twitter)
- Bigo Live
- Roblox (platform game dengan interaksi sosial tinggi)
Menkomdigi Meutya Hafid menegaskan bahwa langkah ini diambil agar teknologi tetap “memanusiakan manusia” dan tidak membuat masa kecil anak-anak terenggut oleh algoritma yang adiktif.
Kekhawatiran Meta: Risiko Migrasi ke “Sudut Gelap” Internet
Meskipun Meta menyatakan dukungannya terhadap upaya perlindungan remaja, mereka menyuarakan kekhawatiran serius terkait mekanisme pelarangan total. Menurut juru bicara Meta, pembatasan media sosial anak yang terlalu kaku tanpa solusi alternatif justru bisa menjadi bumerang.
- Penulis: Azhar Ilyas



