Breaking News
Trending Tags

Rupiah Lemah, DPR Tanyakan Bank Indonesia: Semua Instrumen Sudah Dipakai, Kok Tetap Melemah?

  • account_circle Hasanah Team
  • calendar_month Senin, 18 Mei 2026 16:48 WIB
  • visibility 110
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hasanah.id – Tekanan bertubi-tubi yang melanda mata uang Garuda akhirnya bergulir panas hingga ke meja parlemen. Rapat Kerja antara Komisi XI DPR RI dan Bank Indonesia diwarnai hujan kritik tajam dari kalangan parlemen menyusul merosotnya nilai tukar rupiah yang kini menembus level psikologis baru Rp17.600 per dolar AS. Pihak legislatif menilai kejatuhan mata uang Garuda tersebut telah berada di titik terendah dalam sejarah keuangan domestik dan berpotensi menggerus kepercayaan pasar terhadap bank sentral.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat merosot tajam hingga menyentuh angka Rp17.660 pada perdagangan Senin (18/5/2026) akibat tekanan sentimen negatif global, yang mendorong Komisi XI DPR segera memanggil Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo ke Jakarta.

Anomali yang Membingungkan Parlemen

Kritik paling keras datang dari anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PAN, Primus Yustisio, yang memulai serangannya dengan menyoroti sebuah kontradiksi yang sulit dijelaskan. Ia mengawali kritikannya dengan menyinggung pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 yang tumbuh cukup tinggi, yakni 5,61 persen secara tahunan. Namun, ia mempertanyakan nilai tukar rupiah yang justru jeblok hingga mencapai rekor level terendah terhadap dolar AS.

Ia juga mengungkapkan kondisi rupiah tidak hanya melemah terhadap dolar AS, tetapi juga terkoreksi terhadap sejumlah mata uang negara lainnya. “Faktanya dan ironisnya, pelemahan rupiah terjadi terhadap semua mata uang. Kita melemah terhadap dolar Singapura, dolar Australia, ringgit Malaysia, riyal Arab Saudi, dolar Hong Kong, dan euro Uni Eropa. Ini kan harus kita lihat dengan realita, kita tidak bisa berdiam diri. Apa yang terjadi saat ini menurut saya pribadi, Bank Indonesia sudah menghilangkan trust. Bank Indonesia sudah menyampingkan kredibilitasnya,” ungkap Primus dalam rapat kerja.

“Pak Perry yang saya hormati, kadang kalau kita mengambil tindakan gentleman itu bukan penghinaan, mungkin saatnya sekarang Bapak mengundurkan diri,” ujarnya dalam rapat tersebut, Senin, 18 Mei 2026.

Pertanyaan Kritis: Semua Instrumen Sudah Dipakai, Kenapa Rupiah Masih Melemah?

Anggota Komisi XI DPR Harris Turino menyoroti Bank Indonesia yang sebetulnya sudah melakukan banyak langkah tetapi belum membuahkan hasil. Ia mendesak Bank Indonesia menjelaskan apa yang terjadi sehingga rupiah terus melemah. “Maka pertanyaan kritisnya adalah semua instrumen yang dimiliki BI sudah dilakukan, tetapi why, kenapa rupiah tetap berlanjut mengalami depresiasi?” tutur dia.

Dalam rapat kerja tersebut juga sempat mengemuka ejekan atau meme posisi rupiah terhadap dolar AS yang dianggap merepresentasikan peringatan hari kemerdekaan di angka Rp17.845 per dolar AS. “Bahkan muncul ejekan kalau Rp 17.845 per US$, maka Indonesia merdeka, katanya,” kata Haris Turino.

Anggota lainnya, Muhidin M Said dari Fraksi Golkar, menyebut perang Iran dan Amerika Serikat mempersulit keadaan rupiah yang saat ini terus merosot. “Kita, kecenderungan kalau saya melihat bahwa ini tidak ada satu kesimpulan yang bisa menyatakan bahwa perang di Iran dengan Amerika ini akan berakhir secepat itu. Kira-kira langkah-langkah apa terutama menyangkut masalah nilai tukar yang saat ini tadi pagi dibuka kurang lebih Rp17.590 sekarang sudah Rp17.600 sekian. Ini sangat sulit menurut saya,” kata Muhidin.

Jawaban Gubernur BI: Stabilitas Bukan Level

Menghadapi gempuran pertanyaan yang bertubi-tubi, Gubernur BI Perry Warjiyo memberikan penjelasan yang justru memicu perdebatan lebih lanjut. Perry menjelaskan ada perbedaan soal stabilitas dan level nilai tukar rupiah. “Stabilitas nilai tukar rupiah, bukan tingkat nilai tukar rupiah, kita bicara stabilitas, bukan level,” kata Perry saat rapat kerja di Komisi XI DPR, Senin (18/5/2026).

Perry meyakini rupiah akan kembali menguat pada Juli-Agustus 2026 berdasarkan pola historis yang menunjukkan rupiah umumnya dalam tekanan pada periode April, Mei, dan Juni akibat tingginya kebutuhan likuiditas valuta asing. “Kalau kita lihat grafik itu akan, itu kenapa kita masih yakin,” ujarnya.

Dampak ke Masyarakat yang Tidak Bisa Diabaikan

Hasanah.id mencatat bahwa pelemahan rupiah ini bukan sekadar angka di papan bursa yang jauh dari kehidupan sehari-hari. “Jangan dikira pelemahan nilai rupiah terhadap dolar yang sudah Rp 17.600 itu tidak akan menjalar ke biaya hidup yang naik di level desa. Memangnya orang desa nggak pakai barang-barang impor? Mulai dari handphone, kendaraan bermotor, komponen elektroniknya, mesin cucinya itu semua akan terpengaruh. Pupuknya pun juga akan terpengaruh harganya yang ada di sentra-sentra pertanian kalau rupiahnya makin melemah,” demikian diungkapkan dalam rapat tersebut.

Ekonom dari Center of Reform on Economics atau CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memperingatkan bahwa kepanikan pasar bisa memicu para investor untuk mengamankan aset mereka ke dalam bentuk dolar secara masif jika pemerintah gagal menunjukkan langkah reformasi struktural yang konkret. “Dalam situasi seperti itu, ekspektasi pelemahan bisa berkembang menjadi tekanan nyata. Investor mulai meningkatkan lindung nilai, permintaan dolar naik, arus modal keluar membesar, dan depresiasi rupiah akhirnya memperkuat dirinya sendiri. Situasi seperti ini dalam ekonomi sering disebut sebagai self-fulfilling depreciation,” ujarnya.

Hasanah.id akan terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah dan hasil rapat kerja Komisi XI DPR dengan Bank Indonesia serta menyampaikan informasi terbaru kepada seluruh pembaca secara akurat dan berimbang.

Ikuti Kami Di:
Hasanah di Google News

  • Penulis: Hasanah Team
  • Editor: redaksi hasanah.id
expand_less