Ada yang Baru bagi Pelaku Usaha Perempuan

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga meresmikan Program Sispreneur 2021 Kelas Inkubasi Manajemen Bisnis (Pendampingan) bagi 1.000 Pelaku Usaha Perempuan Indonesia

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak meluncurkan program Sispreneur 2021 Kelas Inkubasi Manajemen Bisnis (Pendampingan) bagi 1.000 Pelaku Usaha Perempuan Indonesia.

Program ini diresmikan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga dalam rangka peringatan Hari Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Nasional

Program ini merupakan hasil kolaborasi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) dengan PT XL Axiata, Tbk yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kewirausahaan berperspektif gender dan memperluas akses pemasaran digital bagi pelaku usaha perempuan, guna memajukan usaha, meningkatkan perekonomian keluarga, hingga memberi kontribusi pada perekonomian nasional.

“Saya berharap pelatihan yang dilaksanakan pada 2021 ini, dapat menjawab berbagai tantangan yang masih dihadapi para perempuan wirausaha, khususnya dalam membuka akses pengetahuan terkait pemahaman perspektif gender, perencanaan bisnis, pemasaran dan branding, serta literasi keuangan dan akses pasar yang lebih luas melalui digital marketing, sehingga pada akhirnya dapat memajukan usaha, meningkatkan perekonomian keluarga, dan memberi kontribusi pada perekonomian nasional,” ungkap Menteri Bintang dalam acara Peresmian Program Sispreneur 2021 Kelas Inkubasi Manajemen Bisnis (Pendampingan) bagi 1.000 Pelaku Usaha Perempuan Indonesia yang dilaksanakan secara virtual.

Menteri Bintang menuturkan pemulihan ekonomi nasional dapat diupayakan salah satunya dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi bangsa. Dalam hal ini, kemampuan kewirausahaan (entrepreneurship) perempuan sangatlah penting, mengingat pembukaan usaha baru dan perluasan usaha akan mendorong tersedianya lapangan kerja untuk menyerap angkatan kerja yang bertambah setiap tahunnya. Berdasarkan data Perkembangan UMKM dan Besar di Indonesia pada tahun 2014-2018, dari seluruh jenis usaha di Indonesia, 99,99 persennya merupakan UMKM. Selain itu, data BPS pada tahun 2018, menunjukkan bahwa dari total UMKM, lebih dari 60 persennya (sekitar 37 juta) dimiliki dan dikelola oleh perempuan.

“Namun sayangnya, potensi UMKM perempuan masih belum termaksimalkan. Masih banyak perempuan wirausaha yang menghadapi banyak tantangan dalam mengembangkan usahanya dibandingkan dengan laki-laki, mulai dari tantangan pada akses permodalan, akses pengetahuan, akses pasar, hingga dukungan baik dari negara maupun masyarakat,” jelas Menteri Bintang.

Untuk menangani berbagai tantangan ini, tentunya Kemen PPPA tidak dapat bekerja sendiri. Dibutuhkan sinergi yang kuat antar pilar-pilar pembangunan, baik dari sektor pemerintahan, dunia usaha, media, lembaga masyarakat, akademisi, tokoh masyarakat dan tokoh agama, bahkan seluruh rakyat Indonesia. “Mari kita himpun kekuatan dan tatap satu tujuan bersama, yaitu dunia yang setara bagi semua, dimana perempuan kuat, mandiri dan berdaya, serta anak-anak terlindungi untuk kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia,” tegas Menteri Bintang.

Lebih lanjut, Menteri Bintang mengungkapkan jika perempuan dilibatkan secara penuh, tidak hanya dalam mengimplementasikan program, melainkan juga menyebarluaskan ilmu maupun praktik baik yang mereka dapat dari berbagai program, maka dapat mewujudkan salah satu isu prioritas Kemen PPPA yaitu pemberdayaan perempuan dalam kewirausahaan yang berperspektif gender. “Untuk itu, saya mengajak para peserta Program Sispreneur 2021 untuk turut menyalurkan ilmu dan praktik baik yang sudah diterima, ke lebih banyak perempuan di daerah-daerah lainnya. Sehingga, peluang untuk memiliki akses pengetahuan dan akses untuk memasarkan produk ke pasar digital yang lebih luas bisa didapatkan semua perempuan. Jadilah agen perubahan di manapun kalian berada, mulai dari unit terkecil, keluarga, hingga lingkungan,” pungkas Menteri Bintang.

Menteri Bintang menyambut baik terselenggaranya program Sispreneur 2021 sebagai bentuk sinergi antara Kemen PPPA dengan PT XL Axiata, Tbk dalam penyelenggaraan sekaligus mewujudkan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak melalui partisipasi dunia usaha. Adapun para peserta program pelatihan ini merupakan pelaku usaha dari lembaga masyarakat mitra Kemen PPPA yaitu ASPPUK, PEKKA, KAPAL Perempuan, Kalyanamitra, Hapsari, Migrant Care, PPSW, dan KPI. Program Sispreneur ini, sebelumnya juga telah dilaksanakan dan berhasil mendampingi sebanyak 275 pelaku usaha perempuan Indonesia pada tahun 2020.

Sementara itu, President Direktur dan CEO PT XL Axiata TBK, Dian Siswarini menuturkan melalui program Kelas Inkubasi Sispreneur 2021 yang diikuti 1.000 perempuan pelaku UMKM dari 20 provinsi di Indonesia, yang akan mendapatkan pendampingan manajemen bisnis untuk mengembangkan bisnisnya dengan memanfaatkan beragam sarana berbasis teknologi digital. “Teknologi digital menawarkan kesempatan kepada siapa saja untuk mampu memaksimalkan potensi yang dimiliki, termasuk bagi perempuan pelaku usaha mikro. Teknologi digital akan memungkinkan mereka untuk menembus pasar yang lebih luas dan hampir mustahil bisa dijangkau jika tidak online. Teknologi digital sekaligus akan mempermudah mereka melakukan promosi produk dan jasa secara lebih massif melalui media sosial ataupun platform marketplace,” tutur Dian.

Menurut Dian, perempuan pelaku UMKM merupakan pihak yang paling terdampak secara ekonomi dan sosial selama masa pandemi Covid-19. Oleh karena itu, program kelas inkubasi ini menjadi sangat relevan diselenggarakan saat ini agar dapat membantu di dua sisi sekaligus, yaitu sisi perempuan sebagai penggerak ekonomi keluarga dan UMKM yang dikelolanya agar bisa menopang ekonomi keluarga dan menggerakkan ekonomi di lingkungan sekitarnya,” tutur Dian Siswarini.

Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kemen PPPA, Lenny N. Rosalin mengungkapkan dalam program Sispreneur 2021 ini, para pelaku usaha perempuan juga diberikan pelatihan dan pendampingan tidak hanya terkait materi ekonomi tentang bagaimana mengembangkan bisnisnya, tapi juga terkait materi kesetaraan gender. Misalnya pengetahuan terkait kesehatan reproduksi, pengasuhan anak, pengetahuan hukum, dan kepemimpinan. “Dengan perempuan berdaya secara ekonomi, hal ini turut mendorong terwujudnya pola pengasuhan yang lebih baik, menurunkan angka kekerasan, mencegah stunting, mencegah pekerja anak, hingga mencegah perkawinan anak,” terang Lenny.

Adapun sejumlah materi yang diajarkan dalam Kelas Inkubasi Sispreneur 2021 ini, meliputi perspektif gender dalam pelatihan kewirausahaan, perencanaan bisnis, pemasaran dan branding, literasi finansial, serta promosi melalui digital marketing. Tahun ini ada beberapa tambahan materi dan skill yang akan diberikan kepada perempuan pelaku UMKM peserta program inkubasi ini, antara lain materi literasi finansial, yang akan diberikan Tim dari Bank BRI, mengenai perlunya menyiapkan sisi finansial yang baik untuk dapat terus bertahan dalam menjalankan bisnis.

Pada acara ini, perwakilan pelaku usaha perempuan alumni program Sispreneur 2020 dari Dusun Kemuning, Lombok Barat, NTB, Sri Handayani turut memberikan testimoni terkait keberhasilan dan kemajuan usahanya setelah mengikuti program tersebut. Perempuan yang memiliki usaha produk sembako dan kebutuhan sehari-hari tersebut, menceritakan bahwa sebelumnya ia mengalami kendala yaitu sedikitnya konsumen yang mengetahui dan membeli produk yang dijualnya. Namun setelah mengikuti program Sispreneur 2020, usahanya banyak diketahui banyak orang, sehingga bisa terus berjalan dan bertahan hingga saat ini.

Total
1
Shares
Related Posts