Ancaman dari Luar Tak Selalu Terlihat, Kapolri Minta Waspadai Masuknya WNA
- account_circle Hasanah 014
- calendar_month Rabu, 6 Agt 2025
- visibility 44
- comment 0 komentar
- print Cetak

Tangkapan foto Kapolri Jenderal Listyo Sigit
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
HASANAH.ID – Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengingatkan bahwa kehadiran warga negara asing (WNA) di wilayah Indonesia tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Dalam situasi global yang semakin dinamis dan penuh ketegangan, potensi ancaman melalui jalur masuk legal maupun ilegal harus terus diwaspadai oleh aparat negara.
Peringatan itu disampaikannya saat menghadiri acara penandatanganan nota kesepahaman antara Polri dan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas), yang berlangsung di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Senin (4/8/2025). Menurutnya, tidak semua WNA yang datang ke Indonesia semata-mata untuk berwisata atau mencari perlindungan.
“Kita harus selalu waspada bahwa mereka tidak hanya masuk karena mengungsi atau masuk sebagai wisatawan, namun di satu sisi mereka juga adalah spionase-spionase yang mungkin didorong oleh suatu negara untuk masuk ke Indonesia, untuk kemudian mengetahui dan mempelajari bahkan melakukan hal-hal yang tentunya berdampak kepada instabilisasi keamanan dalam negeri,” ujar Listyo dalam sambutannya.
Ia juga menambahkan bahwa secara prinsip, setiap negara memiliki kepentingan untuk menjaga keamanan dan kestabilan wilayahnya masing-masing. Dalam konteks geopolitik, strategi untuk melemahkan kekuatan negara lain bukan hal yang tidak mungkin dilakukan.
“Itu tentunya menjadi satu prinsip dalam hal bagaimana suatu negara harus bertahan dan tentunya kita harus mewaspadai hal tersebut,” lanjut Kapolri.
Lebih jauh, Listyo menjelaskan bahwa eskalasi konflik global berkontribusi besar terhadap peningkatan jumlah pengungsi internasional. Ia mencontohkan konflik antara Rusia-Ukraina, Israel-Palestina, India-Pakistan, Amerika Serikat-China, hingga ketegangan antara Thailand dan Kamboja, sebagai pemicu utama gelombang pengungsi dan meningkatnya kejahatan lintas batas negara.
“Banyak pengungsi, lalu muncul juga persoalan-persoalan baru akibat disparitas ekonomi yang memicu berbagai kejahatan, seperti transnational crime, penyelundupan orang, barang, narkoba, hingga barang-barang terlarang lainnya,” jelasnya.
Dalam menghadapi kompleksitas tantangan tersebut, Listyo menegaskan bahwa kolaborasi antarinstansi menjadi hal yang tidak bisa ditawar. Ia menyebut kekuatan personel Polri dan Imigrasi jika digabungkan, akan menjadi kekuatan besar yang mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia hingga titik perbatasan.
“Kekuatan Polri sekitar 490 ribu personel dan kekuatan Imipas sebesar 64 ribu, yang tergerak mulai dari tingkat pusat sampai tingkat terbawah, bahkan tersebar di wilayah perbatasan. Sehingga kekuatan ini, kalau kita satukan dan padukan, maka kita bisa bersama-sama melakukan berbagai macam kegiatan secara optimal,” pungkasnya.
- Penulis: Hasanah 014



