Wamenkes: Keterisian Tempat Tidur Perawatan COVID-19 di Jakarta Mulai Flat
- account_circle khasanah
- calendar_month Senin, 19 Jul 2021 13:03 WIB
- visibility 362
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Obat bisa saya laporkan bahwa di dalam negeri relatif terkontrol pasokannya. Kami menyadari bahwa ada obat-obat impor yang memang secara global pasokannya sangat ketat dan obat-obat tersebut antara lain ada Remdesivir, Actemra, Gammaraas (IVig),” ujarnya.
Dante menjelaskan, Remdesivir akan diimpor dari India, Pakistan, dan Cina. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama Kementerian Luar Negeri telah melakukan negosiasi agar India bisa membuka kembali ekspor untuk obat tersebut.
“Sudah mulai masuk sekitar 50 ribu vial dan nanti akan bertambah lagi menjadi 50 ribu vial lagi per minggu. Kami juga sudah membuka akses ke Cina supaya obat-obat yang mirip dengan Remdesivir bisa masuk,” jelasnya.
Untuk Actemra, pemerintah telah menjalin komunikasi langsung dengan Roche, perusahaan obat asal Swiss, untuk mendatangkan salah satu obat terapi COVID-19 yang cukup sulit didapatkan ini.
Sedangkan untuk Gammaraas, pemerintah Indonesia sudah mendapatkan impor dari Cina sebanyak 30 ribu vial. Namun masih butuh stok lebih banyak lagi untuk mencukupi kebutuhan di Indonesia.
Untuk obat-obat yang pasokannya dikategorikan masih cukup dan kelihatan masih jarang untuk masyarakat, tutur Dante, sudah dilakukan pertemuan dengan Gabungan Perusahaan Farmasi agar distribusi obat tersebut semakin merata di seluruh Indonesia.
Penulis khasanah
jurnalis dan penulisan konten digital di Hasanah.id yang mengkhususkan diri pada peliputan tren global, gaya hidup modern, dan isu-isu internasional terkini.



