Pembangunan di Tanah Papua Perlu Keadilan Keanekaragaman Budaya
- account_circle Hasanah 012
- calendar_month Rabu, 6 Mar 2024 23:33 WIB
- visibility 209
- comment 0 komentar
- print Cetak

Tangkapan foto Prof. Cahyo pada Rabu, (6/3/2024) di Bakoel Koffie, Kota Jakarta.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
HASANAH.ID – NASIONAL. Aliansi Mahasiswa Papua, Siska mengatakan bahwa manusia dan alam di tanah Papua sudah lama mengalami penindasan bahkan lebih dari setengah abad. Ia mengatakan bahwa banyak sekali orang asli Papua disingkirkan paksa oleh militer pada Selasa, (6/3/2024) di Dago Elos, Kota Bandung.
Siska mengatakan banyak penderitaan yang dialami oleh warga Papua, terutama saat masuknya perusahaan ilegal. Perusahaan ilegal itu menggerus tanah masyarakat adat menjadi pertambahan atau kelapa sawit.
“Hutan dipakai oleh orang Papua untuk mencari makan, disingkirkan oleh perusahaan,” ujarnya.
Sementara itu, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Cahyo mengatakan pada Rabu, (6/3/2024) bahwa pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah di tanah Papua tidak sesuai dengan keanekaragaman budaya yang dihasilnya masyarakat asli. Ia mengatakan bahwa masyarakat asli Papua hidupnya berada di hutan, mencari makan dengan berburu serta meramu. Hal ini disingkirkan oleh pemerintah menjadi kebun sawit yang tidak sesuai kultur masyarakat Papua.
“Buah merah sama sagu lebih cocok dibandingkan kelapa sawit dan food estate. Buah merah sekarang banyak digunakan untuk pengobatan dan sagu bisa menjadi keanekaragaman pangan dibandingkan nasi. Hal itu lebih kultural dan cocok atas segi tanah untuk Papua,” kata Cahyo.
- Penulis: Hasanah 012




