Breaking News
Trending Tags

Seringai Hapus Lagu dari Spotify, Tegaskan Sikap Tolak Keterlibatan dalam Dukungan Perang

  • account_circle Hasanah 014
  • calendar_month Rabu, 15 Okt 2025
  • visibility 120
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

HASANAH.ID – Grup musik metal Seringai resmi menarik seluruh karya mereka dari layanan streaming Spotify. Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk penegasan sikap untuk tidak terlibat, bahkan secara tidak langsung, dalam aktivitas yang berhubungan dengan peperangan.

Manager Seringai, Wendy Putranto, menyampaikan bahwa keputusan itu dipicu oleh langkah CEO Spotify, Daniel Ek, yang diketahui menanamkan modal besar pada Helsing, perusahaan pengembang teknologi drone dan kecerdasan buatan (AI) yang digunakan untuk kepentingan militer.

Wendy menegaskan bahwa seluruh anggota Seringai bersepakat untuk menolak segala bentuk keterlibatan dengan kegiatan yang berpotensi mendukung perang.

“Band members Seringai dan seluruh karya yang diciptakan oleh mereka menolak terafiliasi dengan kegiatan tersebut maupun menolak mendukung peperangan,” ujarnya.

Ia kemudian memastikan bahwa keputusan ini tidak berarti karya Seringai menghilang dari dunia digital. Lagu-lagu mereka, kata Wendy, tetap dapat diakses di berbagai layanan streaming lainnya.

“Betul, hanya mundur dari Spotify. [Lagu Seringai] Masih tersedia di streaming platform musik lainnya kok,” tegasnya.

Sikap ini disebut sebagai perwujudan konsistensi Seringai terhadap nilai-nilai perdamaian dan idealisme yang selama ini diusung. Band yang dikenal vokal dalam menyuarakan isu sosial dan kemanusiaan tersebut kembali menunjukkan komitmennya.

Selain Seringai, grup Majelis Lidah Berduri juga dilaporkan menarik seluruh katalog musik mereka dari Spotify karena alasan serupa. Langkah kolektif ini menambah daftar musisi yang melakukan aksi boikot terhadap platform tersebut sejak September 2025 sebagai bentuk protes atas investasi Daniel Ek di sektor pertahanan.

Dari ranah internasional, aksi serupa juga dilakukan oleh grup musik trip-hop legendaris asal Inggris, Massive Attack. Mereka menarik seluruh lagu dari Spotify dan bergabung dengan kampanye No Music for Genocide yang kini diikuti lebih dari 400 musisi dan label rekaman di seluruh dunia.

“Mengingat (dilaporkan) adanya investasi signifikan oleh CEO-nya di sebuah perusahaan yang memproduksi drone amunisi militer dan teknologi AI yang terintegrasi ke dalam pesawat tempur, Massive Attack telah mengajukan permintaan terpisah kepada label kami agar musik kami dihapus dari layanan streaming Spotify di semua wilayah,” tegas grup tersebut.

Aksi boikot ini juga diikuti oleh sejumlah musisi lain seperti King Gizzard and the Lizard Wizard (Australia), Godspeed You! Black Emperor (Kanada), Hotline TNT dan Deerhoof (Amerika Serikat), serta Wu Lyf (Manchester). Mereka kompak menarik musik dari Spotify sebagai bentuk pernyataan moral terhadap investasi militer yang dilakukan oleh Daniel Ek.

Menanggapi gelombang penarikan musik tersebut, pihak Spotify memberikan klarifikasi bahwa perusahaan mereka tidak memiliki hubungan operasional dengan Helsing.

“Spotify dan Helsing adalah dua perusahaan yang benar-benar terpisah,” jelas juru bicara Spotify.

Pihak perusahaan juga menegaskan bahwa Helsing tidak terlibat dalam konflik di Timur Tengah, melainkan fokus pada dukungan pertahanan Eropa.

“Helsing tidak terlibat di Gaza dan upayanya difokuskan pada upaya Eropa untuk mempertahankan diri di Ukraina,” tambahnya.

Sementara itu, pihak Helsing juga merilis pernyataan resmi yang membantah tuduhan bahwa teknologi mereka digunakan di luar kawasan Eropa.

“Saat ini kami melihat misinformasi yang menyebar bahwa teknologi Helsing digunakan di zona perang selain Ukraina. Ini tidak benar,” tegas perwakilan Helsing.

Perusahaan tersebut menegaskan bahwa seluruh teknologi mereka diarahkan hanya untuk kepentingan pertahanan negara-negara Eropa.

“Teknologi kami digunakan di negara-negara Eropa hanya untuk pencegahan dan pertahanan terhadap agresi Rusia di Ukraina,” jelasnya.

Ikuti Kami Di:
Hasanah di Google News

  • Penulis: Hasanah 014
expand_less