Ketika Kemanusiaan Terkalahkan oleh Algoritma: Tragedi Konten Penyiraman Air Panas
- account_circle khasanah
- calendar_month Kamis, 19 Mar 2026 02:04 WIB
- visibility 298
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Bengkulu, Hasanah.id – Di tengah perlombaan mengejar angka viewers dan pengikut, media sosial sering kali menjadi panggung bagi sisi tergelap manusia. Fenomena normalisasi perbuatan keji demi konten telah mencapai titik nadir yang mengkhawatirkan. Salah satu contoh paling tragis adalah beredarnya konten di mana seorang anak tega menyiram ibu kandungnya sendiri dengan air panas yang baru saja mendidih dari tungku, hanya demi memancing reaksi penonton.
Eksploitasi Orang Tua demi “Saweran” Digital
Dalam video tersebut, teriakan kesakitan sang ibu yang berteriak “Panas! Panas!” seolah dianggap sebagai latar belakang suara untuk sebuah pertunjukan. Kejadian ini mencerminkan hilangnya rasa empati dan bakti demi apa yang sering disebut sebagai “Digital Begging” atau mengemis konten.
Ini adalah bentuk eksploitasi yang sangat kejam. Di sini, batas antara realitas dan konten telah hancur. Sang anak tidak lagi melihat ibunya sebagai sosok yang harus dihormati, melainkan sebagai “properti” atau objek yang bisa disakiti demi menarik simpati atau keterkejutan publik yang berujung pada uang atau popularitas.
Normalisasi yang Menghancurkan Logika
Mengapa hal sekeji ini bisa terjadi? Ada beberapa pergeseran nilai yang sangat berbahaya:
Penulis khasanah
jurnalis dan penulisan konten digital di Hasanah.id yang mengkhususkan diri pada peliputan tren global, gaya hidup modern, dan isu-isu internasional terkini.




