Beef Tallow Kembali Tren, Benarkah Lebih Sehat dari Minyak Goreng Biasa?
- account_circle Friska Putri Aryananta
- calendar_month 08 April 2026, 08:34 WIB
- visibility 75
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Hasanah.id – Beef tallow kembali mencuri perhatian publik sebagai alternatif minyak goreng yang disebut-sebut lebih “alami”. Di tengah maraknya tren diet seperti keto dan carnivore, lemak sapi ini kembali naik daun setelah lama tersisih oleh minyak nabati. Namun, di balik popularitasnya, muncul pertanyaan penting: apakah beef tallow lebih sehat, atau hanya tren yang dibesar-besarkan?
Apa Itu Beef Tallow dan Kenapa Kembali Populer?
Beef tallow adalah lemak sapi yang dihasilkan melalui proses rendering, yaitu pemanasan jaringan lemak untuk memisahkan lemak murni dari air dan sisa jaringan. Dalam ilmu pangan, lemak ini tersusun terutama dari trigliserida—bentuk utama lemak dalam makanan menurut Food and Agriculture Organization.
Secara tampilan, beef tallow berwarna putih hingga kekuningan dan berbentuk padat pada suhu ruang. Hal ini disebabkan oleh kandungan lemak jenuhnya yang cukup tinggi, yakni sekitar 50–60%. Selain itu, terdapat juga lemak tak jenuh tunggal sebagai komponen signifikan.
Popularitas beef tallow saat ini bukan fenomena baru. Sebelum minyak nabati mendominasi dapur modern, bahan ini justru menjadi andalan untuk menggoreng. Kini, dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap minyak olahan, beef tallow kembali dilirik sebagai opsi yang dianggap lebih “tradisional”.
Salah satu alasan utama beef tallow digemari adalah stabilitasnya saat dipanaskan. Lemak dengan kandungan lemak tak jenuh ganda yang rendah cenderung lebih tahan terhadap oksidasi. Karena itu, beef tallow relatif stabil digunakan untuk memasak suhu tinggi, dengan titik asap sekitar 200–250°C.
Dari sisi rasa, bahan ini juga unggul. Beef tallow memberikan cita rasa gurih yang lebih kuat dibandingkan minyak nabati, sehingga sering digunakan untuk meningkatkan kualitas rasa pada berbagai hidangan.
- Penulis: Friska Putri Aryananta



