3 Calon Manajer Kopdes Meninggal Saat Latihan Militer, DPR Minta Program Dievaluasi
- account_circle Atep Hilmansyah
- calendar_month Jumat, 26 Jun 2026 08:18 WIB
- visibility 109
- comment 0 komentar
- print Cetak

3 Calon Manajer Kopdes Meninggal Saat Latihan Militer, DPR Minta Program Dievaluasi (foto: istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Bandung, Hasanah.id- Pelaksanaan latihan dasar kemiliteran (latsarmil) bagi calon Manajer Kopdes menjadi sorotan setelah tiga peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meninggal dunia saat mengikuti pelatihan di fasilitas TNI.
Menanggapi kejadian tersebut, Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono meminta agar penyelenggaraan program segera dievaluasi demi mencegah insiden serupa terulang.
Dave menyampaikan belasungkawa atas wafatnya para peserta dan menegaskan bahwa seluruh masukan terkait pelaksanaan pelatihan harus diterima sebagai bahan penyempurnaan program.
Menurutnya, evaluasi penting dilakukan agar program yang disiapkan untuk kepentingan masyarakat dapat berjalan lebih baik dan aman.
Ia menjelaskan, peserta SPPI yang dipersiapkan sebagai Manajer Kopdes maupun pengelola Kampung Nelayan Merah Putih sebelumnya telah menjalani asesmen kesehatan sebelum mengikuti latihan.
Meski demikian, Dave menilai evaluasi tetap diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat aspek pelatihan yang perlu diperbaiki.
Menurutnya, latihan dasar kemiliteran memang dirancang dengan standar fisik tertentu. Oleh karena itu, pelaksanaan kegiatan harus terus disempurnakan agar sesuai dengan kondisi peserta tanpa mengurangi tujuan pembinaan yang ingin dicapai.
Sebelumnya, Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengonfirmasi dua peserta Program SPPI calon Manajer Kopdes dan Kampung Nelayan Merah Putih meninggal dunia saat mengikuti latsarmil.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menyebut Anisa Muyassaroh, peserta pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman Balikpapan, meninggal dunia akibat serangan panas atau heat stroke.
Sementara itu, peserta lainnya, Yonanda Muhammad Taufiq, yang menjalani pendidikan di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja, sempat mengalami penurunan kondisi fisik pada 15 Juni 2026. Setelah mendapatkan perawatan di rumah sakit, hasil pemeriksaan medis menyatakan ia meninggal dunia akibat henti jantung.
Kemhan memastikan seluruh peserta telah dinyatakan layak mengikuti pelatihan berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan sebelum pendidikan dimulai. Meski demikian, kementerian berkomitmen melakukan evaluasi terhadap sistem penyelenggaraan latihan agar aspek keselamatan peserta semakin terjamin.
Sehari setelah pengumuman tersebut, Kemhan kembali mengonfirmasi satu peserta lainnya, Novia Rahmadhani Sihotang, meninggal dunia. Novia merupakan peserta Program SPPI Kampung Nelayan Merah Putih 2026 yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau, Jakarta.
Menurut Rico, Novia mengalami gangguan kesehatan saat menjalani latsarmil pada Senin, 22 Juni 2026. Ia kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Angkatan Udara Dr. Esnawan Antariksa untuk mendapatkan penanganan medis. Namun kondisinya terus menurun hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Selasa, 23 Juni 2026.
Kasus meninggalnya tiga calon Manajer Kopdes ini menjadi perhatian berbagai pihak. Selain evaluasi terhadap mekanisme pelatihan, DPR juga mendorong agar aspek keselamatan, pemeriksaan kesehatan, dan standar pelaksanaan pendidikan terus diperkuat demi menjamin keamanan seluruh peserta di masa mendatang.
- Penulis: Atep Hilmansyah



