Viral Lagu Bupati Purwakarta, Atalia Praratya Kritik Lirik yang Dinilai Tak Hormati Perempuan
- account_circle Atep Hilmansyah
- calendar_month Rabu, 1 Jul 2026 14:55 WIB
- visibility 98
- comment 0 komentar
- print Cetak

Viral Lagu Bupati Purwakarta, Atalia Praratya Kritik Lirik yang Dinilai Tak Hormati Perempuan (dok. istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Atalia Praratya Sampaikan Kritik Terbuka
Kritik terhadap lagu tersebut juga disampaikan oleh Atalia Praratya melalui akun Instagram pribadinya. Dalam unggahannya, ia mengaku telah mencoba memahami isi lagu dari berbagai sudut pandang, namun tetap tidak menemukan nilai yang menurutnya dapat dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan.
“Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan,” tulis Atalia Praratya, dikutip Rabu, 1 Juli 2026.
Menurut Atalia, persoalan ini bukan sekadar soal selera seni maupun kebebasan berekspresi. Ia menilai pilihan diksi dalam lagu tersebut bertolak belakang dengan nilai budaya Sunda yang selama ini menjunjung tinggi sikap saling menghormati.
Nilai Budaya Sunda Ikut Disorot
Atalia menilai bahasa Sunda memiliki banyak kosakata yang indah serta mengandung nilai kehidupan. Karena itu, ia mempertanyakan alasan penggunaan narasi yang menurutnya justru merendahkan perempuan, terlebih lagu tersebut diperkenalkan oleh seorang kepala daerah yang memiliki pengaruh di masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, dan silih wawangi. Menurutnya, budaya Sunda tidak pernah mengajarkan masyarakat untuk menjadikan beban biologis perempuan sebagai bahan candaan.
Di akhir pernyataannya, Atalia turut menyinggung masih kuatnya budaya patriarki di tengah masyarakat. Ia mempertanyakan mengapa narasi yang dinilai bernuansa patriarkal justru muncul dari karya seorang pejabat publik yang seharusnya menjadi teladan bagi masyarakat.
- Penulis: Atep Hilmansyah




