Breaking News
Trending Tags
Beranda » JABAR » Dedi Mulyadi Santai Dijuluki ‘Jokowi Jilid 2’: Politik Itu Dinamis, Biar Publik Menilai

Dedi Mulyadi Santai Dijuluki ‘Jokowi Jilid 2’: Politik Itu Dinamis, Biar Publik Menilai

  • account_circle Bobby Suryo
  • calendar_month Jumat, 15 Agt 2025
  • visibility 46
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hasanah.id — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi dengan santai berbagai julukan yang disematkan publik kepadanya, termasuk sebutan ‘Mulyono Jilid 2’ yang kerap disandingkan dengan gaya kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

Dedi mengaku tidak mempermasalahkan narasi yang mengaitkan dirinya dengan sosok Jokowi. Bahkan ia menyebut perbandingan itu sebagai fenomena politik wajar yang muncul di era keterbukaan informasi.

“Judul di media bilang, ‘Habis Mulyono, terbitlah Mulyadi’. Saya sendiri tidak tahu narasi ini muncul karena kekhawatiran, kekaguman, atau justru bentuk keisengan. Tapi saya anggap sebagai bagian dari dinamika,” kata Dedi sambil tersenyum.

Dedi, yang kini akrab disapa KDM, justru heran dirinya menjadi sorotan sejak awal menjabat Gubernur Jawa Barat. Ia menegaskan bahwa setiap pemimpin memiliki gaya dan pendekatan masing-masing dalam mengelola daerah.

“Kalau saya disebut mirip Jokowi, ya tidak masalah. Tapi jelas secara demografis dan geografis, tantangan Jawa Barat berbeda. Saya tidak merasa terbebani,” tegasnya.

Ia juga membagikan sederet “gelar” lain yang diberikan warganet.

“Gelar saya sekarang sudah lebih dari lima. Mulai dari ‘Gubernur Konten’, ‘Gubernur Lambeturah’, sampai ‘Kang Duda Menyala’. Mungkin nanti jadi ‘Kang Duda Meraja Lela’,” selorohnya.

Meski kerap menjadi sasaran kritik, KDM menilai itu bagian dari konsekuensi menjadi pejabat publik di era digital. Ia meyakini, persepsi publik akan terus berkembang seiring waktu dan transparansi.

“Yang penting itu bukan gaya bicara atau citra di permukaan. Tapi bagaimana saya mengelola dan mempertanggungjawabkan anggaran. Publik bisa menilai sendiri, bukan karena buzzer, tapi karena mereka tahu ke mana uang daerah digunakan,” jelasnya.

  • Penulis: Bobby Suryo
expand_less