Breaking News
Trending Tags
Beranda » JABAR » Walhi Tegaskan Longsor Cisarua Bukan Semata Akibat Cuaca

Walhi Tegaskan Longsor Cisarua Bukan Semata Akibat Cuaca

  • account_circle Bobby Suryo
  • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
  • visibility 45
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hasanah.id – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat menilai tingginya curah hujan bukan faktor utama terjadinya bencana longsor di kawasan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Direktur Walhi Jabar, Wahyudin Iwang, menyebut peristiwa tersebut lebih dipicu oleh persoalan tata ruang yang menyimpang serta masifnya alih fungsi kawasan lindung.

Menurut Iwang, hujan dengan intensitas tinggi hanya berperan sebagai pemicu, bukan akar permasalahan. Ia menekankan bahwa lemahnya pengendalian tata ruang di kawasan Bandung Utara (KBU) telah berlangsung lama dan memperbesar risiko bencana. Kondisi ini diperparah dengan aktivitas ekstraktif yang terus berlangsung, termasuk di wilayah Cisarua.

“Longsor ini merupakan akumulasi dari berbagai pelanggaran tata ruang yang kemudian dipicu hujan ekstrem. Jadi, jangan terus-menerus menyalahkan faktor cuaca,” ujar Iwang, Senin, 26 Januari 2026.

Ia juga mengungkapkan bahwa persoalan tata ruang di kawasan tersebut sejatinya telah diakui oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, sejak lama. Namun demikian, upaya penguatan fungsi kawasan dinilai belum menunjukkan hasil signifikan, terutama setelah diberlakukannya Undang-Undang Cipta Kerja pada tahun 2020.

“Jika masalahnya sudah diketahui sejak lama, semestinya ada langkah konkret untuk memperkuat perlindungan kawasan KBU. Faktanya, hal itu terkesan dibiarkan, padahal Walhi telah menyuarakan persoalan ini selama sekitar 20 tahun,” tegasnya.

Sementara itu, kepolisian terus melakukan penanganan terhadap dampak bencana longsor tersebut. Polres Cimahi mendirikan posko Disaster Victim Identification (DVI) guna membantu proses identifikasi korban bersama tim SAR gabungan dan instansi terkait.

Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Hendra Rochmawan, menyampaikan bahwa hingga saat ini tim DVI telah menerima 25 kantong jenazah. Dari jumlah tersebut, 17 korban telah berhasil diidentifikasi, sementara delapan lainnya masih menjalani proses pemeriksaan lanjutan.

“Kendala identifikasi disebabkan kondisi jenazah serta keterbatasan data pembanding,” jelas Hendra.

Ia menambahkan, dalam kondisi normal proses identifikasi memerlukan waktu sekitar satu hingga dua jam per jenazah.

Selain itu, Polda Jawa Barat juga membuka layanan laporan orang hilang bagi keluarga korban, memberikan pendampingan psikologis, serta melakukan pengamanan di lokasi pengungsian.

  • Penulis: Bobby Suryo
expand_less