BI Diprediksi Pertahankan BI‑Rate 5,75% Saat Rupiah Tertekan
- account_circle khasanah
- calendar_month Rabu, 19 Agt 2026 11:35 WIB
- visibility 14
- comment 0 komentar
- print Cetak

Tekanan Rupiah dan Defisit Transaksi: Dampak pada Kebijakan Bunga BI di 2023
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Proyeksi defisit transaksi berjalan menunjukkan risiko yang perlu diwaspadai.
Untuk 2026, deficit transaksi berjalan diperkirakan mencapai 36,15 miliar Dolar AS atau 2,46 persen terhadap PDB.
Angka itu jauh meningkat dibandingkan defisit 0,11 persen terhadap PDB pada 2025.
Pada triwulan II, ekspor tumbuh 4,13 persen sementara impor melonjak 8,82 persen, menandakan permintaan devisa yang meningkat lebih cepat daripada tambahan pasokan dari ekspor.
Cadangan devisa juga menunjukkan tren turun yang signifikan.
Cadangan devisa tercatat turun dari 156,47 miliar Dolar AS pada akhir 2025 menjadi sekitar 145,3 miliar Dolar AS pada akhir Juli 2026, setara 5,5 bulan impor.
Menurut Josua, kondisi tersebut membuat Bank Indonesia harus lebih berhati-hati dalam menggunakan cadangan untuk stabilisasi.
Dia menilai BI memiliki amunisi, namun stabilisasi yang berkepanjangan melalui penjualan cadangan tidak ideal sehingga kebijakan suku bunga menjadi alat konservatif.
Menahan BI-Rate 5,75 persen dinilai dapat membantu mempertahankan daya tarik imbal hasil aset rupiah dan mengurangi kebutuhan intervensi valas.
Arus modal asing mulai membaik terutama pada Surat Berharga Negara dan instrumen pasar uang BI.
Kepemilikan nonresiden pada SRBI meningkat dari sekitar Rp287,06 triliun pada akhir Juli menjadi Rp301,95 triliun per 13 Agustus.
Penulis khasanah
jurnalis dan penulisan konten digital di Hasanah.id yang mengkhususkan diri pada peliputan tren global, gaya hidup modern, dan isu-isu internasional terkini.




