Harga Emas Dunia Sentuh Level Tertinggi, Diprediksi Tembus US$5.000 Tahun 2026
- account_circle Hasanah 014
- calendar_month Jumat, 19 Des 2025
- visibility 125
- comment 0 komentar
- print Cetak

Update Harga Emas Antam (Foto Ilustrasi)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Hasanah.id – Harga emas global menunjukkan penguatan di tengah melemahnya pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS). Pergerakan harga ini dipengaruhi oleh ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) serta meningkatnya minat terhadap aset lindung nilai di tengah ketegangan geopolitik.
Pada perdagangan Kamis (18/12/2025) hingga pukul 06.39 WIB, harga emas di pasar spot tercatat turun tipis 0,03 persen ke posisi US$4.339,36 per troy ons. Sehari sebelumnya, Rabu (17/12/2025), harga emas dunia justru menguat 0,87 persen ke level US$4.340,81 per troy ons. Kenaikan tersebut memperpanjang tren penguatan selama tujuh hari berturut-turut.
Data terbaru menunjukkan tingkat pengangguran AS meningkat menjadi 4,6 persen, tertinggi sejak September 2021. Pelemahan pasar tenaga kerja dinilai dapat memperbesar peluang pemangkasan suku bunga acuan, yang berpotensi memberikan dukungan pada kinerja emas sebagai aset tanpa imbal hasil.
CEO dan manajer aset DHF Capital S.A., Bas Kooijman, menyampaikan bahwa pelaku pasar masih memperkirakan arah kebijakan The Fed akan cenderung longgar.
“Pasar terus memperkirakan The Federal Reserve akan memangkas suku bunga dua kali selama paruh pertama tahun 2026, yang dapat terus mendukung harga emas selama periode tersebut,” ujarnya.
Pekan lalu, The Fed menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin untuk ketiga kalinya tahun ini. Investor kini memperkirakan pemangkasan lanjutan sebesar 25 basis poin pada 2026. Pasar juga tengah menantikan rilis data inflasi seperti Indeks Harga Konsumen (CPI) November yang akan diumumkan Kamis malam ini, serta indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) pada Jumat, yang menjadi acuan arah kebijakan selanjutnya.
Sementara itu, ketegangan geopolitik turut memberi sentimen positif bagi harga emas. Presiden AS Donald Trump dikabarkan memerintahkan penghentian seluruh aktivitas kapal tanker minyak yang terkena sanksi di wilayah Venezuela. Kebijakan tersebut dipandang sebagai bentuk tekanan tambahan terhadap pemerintahan Nicolas Maduro dan memicu peningkatan permintaan aset safe haven.
Sepanjang dua tahun terakhir, harga emas mencatat lonjakan terbesar sejak krisis minyak 1979 dengan nilai yang meningkat dua kali lipat. Meski sebagian analis sempat memprediksi potensi koreksi, banyak pihak kini justru menilai harga emas masih memiliki ruang untuk naik hingga tahun depan.
Laporan dari JP Morgan, Bank of America (BofA), dan konsultan Metals Focus memperkirakan harga emas batangan berpotensi menembus US$5.000 per troy ons pada 2026.
Ahli strategi BofA, Michael Widmer, menilai dorongan pembelian emas masih kuat karena kombinasi ekspektasi kenaikan harga dan diversifikasi portofolio.
“Faktor pendorong utama berasal dari defisit fiskal AS, upaya mempersempit defisit neraca transaksi berjalan, serta kebijakan dolar yang lemah,” jelasnya.
Direktur Pelaksana Metals Focus, Philip Newman, menambahkan bahwa ketidakpastian terhadap independensi The Fed dan dinamika geopolitik global masih menjadi penopang harga emas.
“Dukungan lebih lanjut berasal dari kekhawatiran tentang independensi The Federal Reserve AS, perselisihan tarif, dan geopolitik termasuk perang di Ukraina dan interaksi Rusia dengan negara-negara NATO di Eropa,” tegasnya.
Morgan Stanley memperkirakan harga emas dapat mencapai US$4.500 per troy ons pada pertengahan 2026. Sementara JP Morgan memperkirakan rata-rata harga emas berada di atas US$4.600 per troy ons pada kuartal kedua dan berpotensi menembus US$5.000 per troy ons di kuartal keempat. Metals Focus juga memperkirakan target serupa di akhir tahun mendatang.
- Penulis: Hasanah 014
