Breaking News
Trending Tags

Kecepatan Internet Indonesia 2026, Paling Lemot di Asia Tenggara?

  • account_circle Azhar Ilyas
  • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
  • visibility 60
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Padahal, kebutuhan akan akses data cepat terus meningkat seiring dengan tren penggunaan media sosial, streaming video kualitas tinggi, hingga adopsi teknologi berbasis AI di perangkat mobile.

Berikut adalah rincian peringkat kecepatan internet Indonesia untuk kategori mobile dibandingkan negara ASEAN lainnya:

  • Brunei Darussalam: 234,96 Mbps (Peringkat 8 Dunia)
  • Singapura: 199,70 Mbps (Peringkat 10 Dunia)
  • Vietnam: 179,24 Mbps (Peringkat 13 Dunia)
  • Malaysia: 143,70 Mbps (Peringkat 29 Dunia)
  • Thailand: 136,23 Mbps (Peringkat 33 Dunia)
  • Kamboja: 60,27 Mbps (Peringkat 67 Dunia)
  • Filipina: 54,13 Mbps (Peringkat 73 Dunia)
  • Indonesia: 52,73 Mbps (Peringkat 75 Dunia)
  • Laos: 45,24 Mbps (Peringkat 81 Dunia)

Kondisi Fixed Broadband: Sedikit Perbaikan Namun Tetap di Bawah

Beralih ke sektor internet rumah atau fixed broadband, kecepatan internet Indonesia menunjukkan sedikit tren positif meski belum memberikan dampak signifikan pada posisi global. Peringkat RI naik satu tingkat dibandingkan periode sebelumnya, namun secara keseluruhan tetap berada di posisi ke-118 dunia.

Dengan kecepatan rata-rata hanya 44,38 Mbps, layanan internet kabel di Indonesia tertinggal sangat jauh dari Singapura yang memegang predikat sebagai pemilik kecepatan internet tercepat di dunia dengan angka menembus 410,06 Mbps. Kesenjangan yang hampir sepuluh kali lipat ini menunjukkan adanya tantangan infrastruktur yang masif di Indonesia, terutama dalam hal pemerataan jaringan serat optik (fiber optic) ke seluruh pelosok negeri.

Mengapa Kecepatan Internet Indonesia Lambat?

Banyak pengguna bertanya-tanya, kenapa kecepatan internet Indonesia lambat dibandingkan dengan negara kecil seperti Vietnam atau Brunei? Ada beberapa faktor kompleks yang mempengaruhinya:

  • Geografi Kepulauan: Membangun infrastruktur kabel bawah laut dan menara BTS di ribuan pulau membutuhkan biaya jauh lebih besar dibandingkan negara daratan atau negara kota.
  • Kepadatan Penduduk: Beban jaringan di wilayah perkotaan yang padat seringkali tidak sebanding dengan kapasitas spektrum yang tersedia.
  • Biaya Investasi: Tingginya biaya pembangunan infrastruktur fisik di daerah terpencil membuat provider cenderung fokus pada wilayah tertentu saja.
  • Regulasi & Alokasi Spektrum: Proses penataan ulang spektrum frekuensi yang memakan waktu turut mempengaruhi kecepatan penggelaran jaringan 5G yang lebih optimal.

Perbandingan dengan Standar Global

Untuk memberikan perspektif yang lebih luas, mari kita lihat rata-rata kecepatan internet dunia pada periode laporan yang sama. Dunia saat ini bergerak menuju koneksi yang jauh lebih efisien:

  • Mobile Global: Download 105,70 Mbps | Upload 14,78 Mbps | Latensi 24 ms.
  • Fixed Broadband Global: Download 118,59 Mbps | Upload 59,45 Mbps | Latensi 9 ms.

Jika melihat data di atas, kecepatan internet Indonesia bahkan belum mampu menyentuh setengah dari rata-rata kecepatan download dunia untuk kategori fixed broadband. Ini menjadi sinyal kuat bagi pemerintah dan penyedia layanan internet (ISP) untuk segera melakukan akselerasi pembangunan infrastruktur digital.

Menatap Masa Depan Digital RI

Kualitas internet bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan fondasi ekonomi masa depan. Dengan kecepatan yang ada saat ini, produktivitas di sektor digital seperti startup, edukasi daring, dan industri kreatif bisa terhambat. Harapannya, dengan perluasan jaringan 5G dan pemerataan proyek strategis nasional seperti Satria-1 atau perluasan jaringan backbone fiber optik, posisi Indonesia dapat merangkak naik dalam beberapa tahun ke depan.

  • Penulis: Azhar Ilyas
expand_less