Said Didu menyampaikan penilaian itu dalam wawancara di kanal YouTube Forum Keadilan TV.
Menurutnya, kunjungan politik Presiden ke Provinsi Lampung pada akhir Juni 2026 menjadi indikator bahwa situasi telah mencapai titik krusial antara Prabowo dan Jokowi.
Said Didu menegaskan bahwa konflik politik yang nampak antara tokoh-tokoh lain hanya bayangan dari persaingan yang lebih besar.
Ia menggambarkan kondisi itu menggunakan istilah yang kuat, menyebutnya sebagai fase “to kill or too be kill”.
Dalam analisisnya, Said Didu menempatkan Presiden sebagai simbol penjaga lapisan kekuasaan tertentu.
Ia menuduh adanya keterlibatan kelompok oligarki dalam pola pembiayaan kebijakan politik yang selama ini terjadi.
Lebih jauh, ia mengklaim ada kolaborasi antara oligarki, mafia judi, penyelundup, dan bandar narkoba dalam mendukung agenda politik tertentu.
Said Didu memperingatkan konsekuensi serius dari hubungan semacam itu terhadap integritas kebijakan publik.
Ia juga menyebut risiko eskalasi konflik yang dapat berdampak pada stabilitas politik nasional.





