Breaking News
Trending Tags

Perseteruan Memanas, Elon Musk Luncurkan Partai Politik Baru di AS

  • account_circle Hasanah 014
  • calendar_month Senin, 7 Jul 2025 08:32 WIB
  • visibility 131
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

HASANAH.ID – Langkah mengejutkan dilakukan Elon Musk yang kini mendirikan partai politik baru bernama Partai Amerika, sebagai respons atas ketidakpuasannya pada kondisi politik Amerika Serikat yang dinilai tidak lagi merepresentasikan demokrasi. Pembentukan partai ini diresmikan setelah perselisihannya dengan mantan Presiden Donald Trump kian memanas, terutama terkait kebijakan pengeluaran besar yang dipromosikan Trump.

Sebelumnya, Musk sempat menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam kampanye Trump pada Pilpres 2024. Namun hubungannya dengan mantan presiden itu memburuk ketika ia ditunjuk sebagai kepala Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE) justru berujung pada ketegangan karena Musk menolak rencana pemotongan besar-besaran terhadap tenaga kerja federal.

Penolakan Musk semakin keras setelah melihat potensi kebijakan tersebut dalam menambah utang nasional secara signifikan. Ia menegaskan tekadnya untuk menghalangi kebijakan tersebut melalui berbagai cara yang dimilikinya.

Dalam sebuah unggahan di platform X, Musk mengungkapkan kritik keras terhadap dominasi dua partai besar yang selama ini mendikte jalannya politik AS.

“Jika menyangkut kebangkrutan negara kita dengan pemborosan & korupsi, kita hidup dalam sistem satu partai, bukan demokrasi,” tulis unggahan tersebut.

Setelah menyampaikan kritik itu, Musk menegaskan niatnya untuk menghadirkan alternatif politik bagi rakyat Amerika.

“Hari ini, Partai Amerika dibentuk untuk mengembalikan kebebasan Anda,” ujarnya.

Sebelumnya, Musk mengadakan jajak pendapat di platform media sosial miliknya, yang bertujuan mengetahui sikap publik terhadap dominasi dua partai. Survei sederhana itu hanya berisi pilihan ya-atau-tidak tentang “kemerdekaan dari sistem dua partai,” dan berhasil menarik lebih dari 1,2 juta responden. Berdasarkan hasil polling tersebut, Musk menyimpulkan bahwa mayoritas publik mendambakan kehadiran partai baru. Ia

“Dengan faktor 2 banding 1, Anda menginginkan partai politik baru dan Anda akan mendapatkannya!” lanjutnya.

Sebagai bentuk kampanye simbolik, Musk juga membagikan meme bergambar ular berkepala dua dengan tulisan “Akhiri Satu Partai,” sebagai bentuk sindiran pada sistem politik AS yang dinilainya tak lagi sehat. Namun para analis politik mengingatkan bahwa hingga kini belum dapat dipastikan seberapa besar pengaruh Partai Amerika terhadap pemilu paruh waktu 2026 atau Pilpres 2028 mendatang.

Konflik Musk dan Trump pun semakin panas ketika RUU One Big Beautiful, yang menjadi agenda andalan kebijakan domestik Trump, disahkan Kongres dan resmi menjadi undang-undang. Musk yang sejak awal menentang RUU itu menilai kebijakan tersebut akan menambah defisit AS hingga USD 3,4 triliun selama sepuluh tahun ke depan. Ia mengkritik keras para politisi Partai Republik yang mendukung RUU tersebut.

“Mereka akan kalah dalam pemilihan pendahuluan tahun depan jika itu adalah hal terakhir yang saya lakukan di Bumi ini,” ujar Musk

Usai kritik tajam itu, Trump dilaporkan mempertimbangkan langkah ekstrem, seperti mendeportasi Musk dan menghentikan kontrak federal untuk bisnis-bisnis yang dijalankan oleh perusahaan Musk. Ketika wartawan menanyakan secara langsung.

“Kita harus melihatnya,” respon Trump, yang semakin memperkuat ketegangan di antara keduanya.

Selain itu, Musk memaparkan strateginya untuk mulai menguasai kursi DPR dan Senat yang rentan, dengan tujuan bisa menjadi penentu dalam pengambilan keputusan undang-undang utama di AS.

“Salah satu cara untuk melaksanakannya adalah dengan berfokus pada hanya 2 atau 3 kursi Senat dan 8 hingga 10 distrik DPR,” kata Musk.

Sebagai informasi, 435 kursi DPR AS akan diperebutkan setiap dua tahun, sementara sekitar sepertiga dari 100 kursi Senat, yang masa jabatannya enam tahun, dipilih juga setiap dua tahun.

Sejumlah pengamat politik menilai upaya Musk berisiko memecah suara pemilih, sebagaimana terjadi pada Pemilu 1992 ketika Ross Perot maju sebagai kandidat independen yang akhirnya melemahkan peluang petahana George HW Bush hingga Bill Clinton dari Partai Demokrat memenangkan kursi presiden.

Ikuti Kami Di:
Hasanah di Google News

  • Penulis: Hasanah 014
expand_less