Breaking News
Trending Tags

Kasus Pelecehan Pendiri Ponpes di Pati Ternyata Sudah Dilaporkan Sejak 2024, Puluhan Santriwati Jadi Korban

  • account_circle MFC Team
  • calendar_month Senin, 4 Mei 2026 17:57 WIB
  • visibility 230
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pati, Hasanah.id– Tabir gelap yang menyelimuti sebuah lembaga pendidikan agama di Jawa Tengah akhirnya tersingkap, kasus dugaan pelecehan pendiri Ponpes di Pati berinisial AS kini menjadi sorotan tajam publik.

Mirisnya, fakta terbaru mengungkap bahwa tindakan bejat ini sebenarnya sudah dilaporkan oleh korban sejak September 2024 silam, namun proses hukum seolah berjalan di tempat hingga baru mendapat titik terang di tahun 2026 ini.

Dugaan kasus pelecehan pendiri Ponpes di Pati ini mencuat setelah puluhan santriwati menjadi korban nafsu bejat sang pengasuh.

AS yang merupakan sosok sentral sekaligus pendiri pondok pesantren di wilayah Tlogowungu, Kabupaten Pati, kini telah ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian.

Namun, lambatnya penanganan kasus ini memicu kemarahan warga dan keluarga korban yang merasa keadilan bagi anak-anak mereka seolah terabaikan selama bertahun-tahun.

Laporan Pelecehan Pendiri Ponpes di Pati Mengendap Sejak 2024

Berdasarkan keterangan resmi dari Dinas Sosial P3AKB Kabupaten Pati, laporan pertama mengenai pelecehan pendiri Ponpes di Pati ini sebenarnya sudah masuk sejak 24 September 2024.

Saat itu, salah seorang korban yang baru saja lulus dari pesantren memberanikan diri untuk bersuara, korban merasa lebih aman melaporkan kejadian tersebut setelah tidak lagi berada di bawah pengaruh dan pengawasan langsung sang pendiri ponpes.

Kepala Dinsos P3AKB Pati, Aviani Tritanti Venusia, mengonfirmasi bahwa pendampingan terhadap korban pelecehan pendiri Ponpes di Pati sudah dilakukan sejak lama.

“Tugas kami adalah mendampingi korban. Awalnya satu orang yang melapor, namun dalam perkembangannya, diduga masih banyak teman-teman korban lainnya yang mengalami nasib serupa namun belum berani bicara,” ujar Aviani.

Hal ini menunjukkan betapa masifnya dampak psikologis yang dialami para penyintas di lingkungan pendidikan tersebut.

Ikuti Kami Di:
Hasanah di Google News

  • Penulis: MFC Team
expand_less