Breaking News
Trending Tags

Komnas Perempuan Minta Dugaan Child Grooming di SMK Tangsel Diusut Tuntas: Sekolah Harus Segera Melapor ke Polisi!

  • account_circle MFC Team
  • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026 10:47 WIB
  • visibility 207
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tanggerang Selatan, Hasanah.id – Jagat maya kembali dihebohkan oleh kabar kelam yang mencoreng dunia pendidikan di Provinsi Banten. Kasus dugaan child grooming atau manipulasi psikologis berbasis seksual yang diduga dilakukan oleh oknum kepala sekolah terhadap siswinya di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) swasta di Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), kini menjadi sorotan tajam publik. Merespons situasi yang mengkhawatirkan ini, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) secara tegas meminta dugaan child grooming di SMK Tangsel diusut tuntas oleh aparat penegak hukum dan pihak yayasan sekolah.

Langkah responsif dari Komnas Perempuan ini diambil demi memberikan rasa aman bagi para pelajar serta memutus mata rantai predator anak yang berlindung di balik institusi pendidikan. Menurut perwakilan Komnas Perempuan, tindakan manipulasi psikologis semacam ini tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja tanpa adanya sanksi hukum yang menjerakan. Oleh sebab itu, Komnas Perempuan meminta dugaan child grooming di SMK Tangsel diusut melalui jalur hukum formal secepat mungkin.

Modus Operandi Pelaku Menyasar Anak Fatherless

Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai unggahan viral di media sosial, kasus dugaan child grooming di SMK Tangsel ini memiliki pola pendekatan yang sangat rapi dan manipulatif. Oknum kepala sekolah tersebut diduga sengaja membidik siswi yang terindikasi kurang mendapatkan perhatian dari sosok ayah atau sering disebut sebagai anak fatherless. Kerentanan psikologis inilah yang dimanfaatkan oleh pelaku untuk masuk dan menguasai pikiran korban secara perlahan.

Modus operandi yang dijalankan pelaku dalam dugaan child grooming di SMK Tangsel ini sejalan dengan pola umum kejahatan serupa. Pelaku awalnya memosisikan diri sebagai teman dekat, sosok pelindung, serta pendengar yang baik bagi keluh kesah korban. Tak hanya itu, oknum kepala sekolah ini juga kerap memberikan hadiah-hadiah kecil, fasilitas, serta validasi emosional yang berlebihan untuk mengikat ketergantungan psikologis sang anak kepada dirinya.

Setelah korban merasa sangat percaya dan bergantung, barulah pelaku melancarkan tahapan normalisasi seksual secara bertahap. Dalam proses ini, pelaku biasanya meminta agar kedekatan spesial atau relasi yang terjalin dirahasiakan rapat-rapat dari siapapun. Hal tersebut sengaja dilakukan untuk mengisolasi anak dari lingkungan pendukungnya, seperti keluarga, sahabat, maupun guru-guru lain di sekolah. Pelaku juga mahir memanipulasi rasa bersalah sehingga korban merasa bertanggung jawab atas situasi yang terjadi.

Ikuti Kami Di:
Hasanah di Google News

  • Penulis: MFC Team
expand_less