China Ancam Balas Negara Pendukung Tarif Impor Trump
- account_circle Hasanah 012
- calendar_month 21 April 2025, 21:34 WIB
- visibility 87
- comment 0 komentar
- print Cetak

Tangkapan foto gambar bendera China. (Sumber: IstockPhoto)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
HASANAH.ID, EKONOMI – Pemerintah China menyampaikan peringatan keras kepada sejumlah negara yang memilih untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat terkait kebijakan kenaikan tarif impor yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump. Beijing menegaskan bahwa pihaknya akan mengambil langkah balasan jika ada negara yang mencapai kesepakatan dengan AS dan merugikan kepentingan China.
Juru bicara Kementerian Perdagangan China menyatakan bahwa pihaknya menentang keras segala bentuk kesepakatan yang mengorbankan kepentingan nasional mereka. Ia menambahkan bahwa jika skenario tersebut terjadi, maka China tidak akan tinggal diam dan akan segera mengambil tindakan balasan.
Dalam pernyataannya, China juga memperingatkan negara-negara lain untuk tidak bersikap lunak dalam menghadapi kebijakan perdagangan Trump. Mereka menilai bahwa pelunakan semacam itu tidak akan membawa hasil positif bagi kedua belah pihak dan justru berpotensi merugikan negara-negara lain.
“Pelunakan tidak akan mendatangkan perdamaian, dan kompromi amat tidak terhormat,” bunyi pernyataan resmi Kementerian Perdagangan China. “Mendahulukan kepentingan pribadi yang bersifat sementara dan mengorbankan kepentingan pihak lain, sama saja dengan mencari kulit harimau.”
Kebijakan kenaikan tarif oleh pemerintahan Trump telah menjadi sumber ketegangan utama dalam hubungan dagang antara kedua negara. Hampir seluruh negara dikenakan tarif dasar impor sebesar 10 persen, sementara China menerima beban tarif yang jauh lebih tinggi. Produk asal China dikenakan tarif dasar hingga 145 persen, dan tarif reciprocal mencapai 245 persen. Sebagai respons, China meningkatkan tarif barang-barang dari AS hingga 125 persen.
Di tengah eskalasi perang dagang tersebut, Presiden Trump mengklaim bahwa pemerintahannya sedang melakukan komunikasi aktif dengan China demi mencapai kesepakatan. Ia menyebut telah dihubungi beberapa kali oleh pihak China, meski tidak mengonfirmasi secara langsung apakah ia telah berbicara dengan Presiden Xi Jinping.
“Saya tidak pernah mengatakan apakah hal itu terjadi atau tidak. Itu tidak pantas,” ujar Trump ketika ditanya tentang kemungkinan pembicaraan langsung dengan Xi.
Namun, pernyataan Trump itu langsung direspons China yang kembali menegaskan bahwa tidak akan ada kesepakatan yang diterima jika mengorbankan kepentingan nasional mereka. Beijing dengan tegas menyatakan bahwa segala bentuk kesepakatan dagang yang bertentangan dengan prinsip kedaulatan ekonomi China tidak akan mendapat tempat.
- Penulis: Hasanah 012



