Utang Proyek Whoosh Membengkak, Menkeu Purbaya Tolak Gunakan APBN
- account_circle Bobby Suryo
- calendar_month Selasa, 14 Okt 2025 15:38 WIB
- visibility 183
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sebanyak 75% dari total pembiayaan berasal dari pinjaman ke China Development Bank, sedangkan 25% sisanya disuntikkan oleh pemegang saham proyek, yaitu PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dengan kepemilikan 60% dan Beijing Yawan HSR Co Ltd yang menggenggam 40%.
Besarnya nilai utang yang ditanggung proyek kereta cepat ini memberikan tekanan langsung pada PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai operator utama. Guna menyelesaikan persoalan tersebut, Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) menyiapkan dua langkah strategis.
Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan dua opsi yang sedang dipertimbangkan:
- Penyertaan dana langsung ke PT KAI untuk meringankan beban utang
- Pengambilalihan aset infrastruktur kereta cepat oleh Danantara sebagai solusi jangka panjang
Dengan tekanan fiskal yang kian besar, pemerintah tampaknya enggan kembali menalangi utang proyek ambisius ini. Fokus kini diarahkan pada tanggung jawab korporasi dan optimalisasi aset, bukan subsidi negara.
- Penulis: Bobby Suryo




