Neraca perdagangan defisit; ekspor nonmigas US$110,19 miliar
- account_circle khasanah
- calendar_month Senin, 6 Jul 2026 14:34 WIB
- visibility 111
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ekspor Indonesia Harus Beralih Ke Produk Bernilai Tambah
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Komoditas berbasis pertanian juga diidentifikasi berpotensi lebih besar bila diolah, seperti produk turunan sawit serta kimia dasar berbasis pertanian.
Sektor perikanan, kopi, kakao, dan rempah-rempah disebutkan sebagai subsektor yang dapat ditingkatkan nilainya lewat pengolahan dan branding ekspor.
Industri manufaktur ringan seperti furnitur, tekstil teknis, alas kaki, otomotif dan komponen elektronik juga termasuk prioritas untuk diversifikasi ekspor.
Rizal mengingatkan bahwa tanpa perubahan struktur ekspor, Indonesia akan terus rentan ketika harga komoditas turun atau kebutuhan impor energi meningkat.
Temuan BPS menunjukkan kenaikan ekspor nonmigas pada Januari-Mei 2026 yang terutama didorong oleh industri pengolahan.
Khususnya, BPS mencatat peningkatan pada olahan nikel, minyak kelapa sawit, kimia dasar organik berbasis pertanian, kimia anorganik, dan semi aluminium.
Rizal memandang data BPS tersebut sebagai peluang untuk memperkuat kebijakan hilirisasi dan dukungan bagi sektor manufaktur.
Penguatan kapasitas industri pengolahan, jaringan pemasaran internasional, dan insentif investasi disebutnya sebagai langkah konkret.
Ia juga menekankan pentingnya kebijakan energi yang stabil untuk menekan impor dan menjaga daya saing industri.
Penulis khasanah
jurnalis dan penulisan konten digital di Hasanah.id yang mengkhususkan diri pada peliputan tren global, gaya hidup modern, dan isu-isu internasional terkini.




