Harga Cabai Merah Awal 2026 Melandai
- account_circle Bobby Suryo
- calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
- visibility 70
- comment 0 komentar
- print Cetak

Harga Cabai Merah Awal 2026 Melandai
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Hasanah.id – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan harga cabai merah secara nasional mengalami penurunan pada awal 2026. Hingga pekan kedua Januari, harga rata-rata tercatat Rp46.514 per kilogram, turun 19,62 persen dibandingkan Desember 2025 yang sempat berada di level Rp57.865 per kilogram.
Menurut BPS, harga cabai merah saat ini masih berada dalam kisaran Harga Acuan Penjualan (HAP) untuk konsumen, dengan batas bawah Rp37.000 dan batas atas Rp55.000 per kilogram.
Dari sisi wilayah, sebanyak 76,67 persen daerah di Indonesia mencatat penurunan Indeks Perubahan Harga cabai merah. Tren penurunan ini dominan terjadi di berbagai wilayah Sumatera, Jawa, serta Kalimantan.
Jumlah daerah yang masih mengalami kenaikan harga terus berkurang sepanjang Januari 2026. Hingga pekan kedua, hanya 52 kabupaten dan kota yang masih mencatat kenaikan harga cabai merah.
Harga cabai merah tertinggi ditemukan di Kabupaten Ndoga dengan mencapai Rp200.000 per kilogram, sementara harga terendah berada di kisaran Rp15.000 per kilogram.
BPS memanfaatkan Indeks Perubahan Harga sebagai instrumen pemantauan pergerakan harga komoditas secara nasional. Data tersebut menjadi acuan dalam menilai stabilitas harga pangan.
Meski harga cenderung turun, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kenaikan harga menjelang Ramadan. Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Tomsi Tohir, meminta pemerintah daerah aktif memantau ketersediaan pasokan di lapangan.
Ia menekankan pentingnya pengecekan langsung terhadap sumber distribusi dan kendala yang dihadapi daerah. Tomsi juga mengingatkan bahwa pengalaman sebelumnya menunjukkan sejumlah komoditas kerap mengalami lonjakan harga menjelang Ramadan, seperti cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, ikan segar, telur, hingga bensin.
Menurutnya, koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci untuk menjaga stabilitas harga komoditas strategis agar lonjakan serupa tidak kembali terjadi.
- Penulis: Bobby Suryo
