Tari Umbul merupakan Aset Potensial Dalam Menunjang Sektor Pariwisata
- account_circle khasanah
- calendar_month Rabu, 1 Jan 2020 19:38 WIB
- visibility 414
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Bupati pun berharap, kegiatan tersebut akan turut mempromosikan objek wisata di sekitar Bendungan Jatigede. Di antaranya, Panenjoan, Tanjung Duriat, Puncak Damar, Kampung Buricakburinong, Pesona Jatigede dan destinasi wisata lainnya di Kab. Sumedang, sehingga mampu mendongkrak kunjungan wisatawan baik dari dalam maupun luar sumedang.
“Data kunjungan wisatawan ke Kabupaten Sumedang dari awal tahun hingga awal Desember 2019 berjumlah 808.696 orang. Dan yang ke kawasan Jatigede di tahun yang sama sekitar 41.060 orang,” ujarnya.
Begitupun menurut budayawan Sumedang, Tatang Sobana, Tari Umbul mulai ada sekitar tahun 1940-an di Dusun Parugpug, Desa Cijambe, Kecamatan Paseh Sumedang yang dibawa oleh seorang seniman bernama Kalsip dari wilayah Indramayu. Selanjutnya tari tersebut dikembangkan oleh seorang penari asal Paseh bernama Ma Jaer atau Bu Misrem.
“Tari Umbul lahir sebagai bentuk ketidaksenangan masyarakat terhadap penjajah Belanda sehingga ekspresi tersebut disalurkan dalam bentuk tarian. Awalnya disajikan pada pertunjukkan Longser, sehingga ada unsur lagu, gerak tari, dan lawak,” ujarnya.
Dikatakan, ciri khas Tari Umbul adalah gerakan pinggul yang berbau erotis sehingga pada awal kemunculannya pernah mengalami penentanga. Namun setelah mengurangi nilai-nilai erotiknya, Seni Umbul kembali muncul dan berkembang luas khususnya di wilayah Kecamatan Situraja dan Paseh.
Penulis khasanah
jurnalis dan penulisan konten digital di Hasanah.id yang mengkhususkan diri pada peliputan tren global, gaya hidup modern, dan isu-isu internasional terkini.




