Breaking News
Trending Tags

KABUT Indonesia dan Kadin KBB Siap Berkomitmen Dorong Program Sampah Jadi Emas Melalui Bank Sampah

  • account_circle Unggung Rispurwo
  • calendar_month 15 Februari 2026, 03:04 WIB
  • visibility 23
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

HASANAH.ID – CISARUA. Persoalan sampah menjadi perhatian serius pemerintah daerah, termasuk pemerintah Kabupaten Bandung Barat, yangmana saat ini pemerintah maupun kelompok masyarakat fokus pada penguatan pengelolaan sampah dari sumbernya (rumah tangga) melalui pemilahan, penggunaan bank sampah, dan pembuatan rumah maggot.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Komunitas Peduli Bandung Utara (Kabut) Indonesia, H. Beny Rubini, menegaskan bahwa persoalan sampah harus dimulai dari hulu.

Pihaknya bersama Kadin Kabupaten Bandung Barat tengah menjajaki langkah-langkah strategis terkait pengelolaan sampah.

Menurut Beny, langkah awal yang paling strategis adalah pembentukan bank sampah di setiap desa, kemudian diperluas hingga ke tingkat RW.

‎“KABUT Indonesia siap membantu. Nantinya, sisa sampah atau residu akan kami sinergikan dengan UPTD sampah untuk proses pengangkutan,” ujar Beny dalam kegiatan sinergitas pengelolaan sampah di wilayah Bandung Utara Cisarua, Sabtu (14/2/2026)

‎Beny mengakui, bank sampah sebenarnya sudah lama dikenal masyarakat. Namun persoalan utamanya terletak pada minimnya pemilahan sampah dan rendahnya konsistensi menabung sampah.

‎Ia bahkan menyebut, jika program “menabung sampah jadi emas” dilakukan secara rutin sejak dulu, nilainya akan sangat terasa saat ini.

‎“Dulu harga emas per gram sekitar Rp500 ribu, sekarang sudah tembus Rp3 juta. Bisa jadi para nasabah bank sampah sekarang sudah sejahtera,” tuturnya.

‎Lebih jauh, Beny menyoroti kondisi Bandung Utara yang dinilainya telah bergeser ke ekonomi konvensional, bukan lagi ekologi ekonomi. Dampaknya, banyak investasi yang justru memicu kerusakan lingkungan.

‎“Kami berharap pemerintah mengubah arah pembangunan dari ekonomi konvensional ke ekologi ekonomi, agar investasi tetap berjalan tanpa merusak alam,” paparnya.

‎Ia juga berharap kehadiran Kadin Kabupaten Bandung Barat sebagai mitra strategis pemerintah dapat mengimbau para pengusaha agar lebih memperhatikan aspek lingkungan dalam berinvestasi di Bandung Utara.

‎“Kami siap bekerja sama dengan pemerintah, akademisi, media, komunitas, dan masyarakat untuk menjaga alam Bandung Utara,” tegas Beny.

‎Sebagai pegiat lingkungan, KABUT Indonesia telah menjalankan berbagai program, mulai dari pengelolaan bank sampah, penanaman pohon, hingga edukasi lingkungan ke sekolah-sekolah.

‎“Kami siap membantu pemerintah, baik di tingkat kecamatan maupun Kabupaten Bandung Barat, dalam menangani persoalan sampah,” tandasnya.

‎Sementara itu, Ketua Kadin Kabupaten Bandung Barat, H. Syamsul Ma’arief, menyampaikan apresiasi atas peran KABUT Indonesia yang konsisten dari gerakan lingkungan hingga pengelolaan bank sampah.

‎“Melalui bank sampah, kita bisa mengubah mindset masyarakat. Sampah harus dipandang seperti emas,” ujarnya.

‎Meski demikian, Syamsul menilai KABUT Indonesia perlu membenahi manajemen dan organisasi, mengingat posisinya sebagai organisasi sosial yang juga menjalankan aktivitas bisnis.

‎“Potensinya sudah ada, tinggal dimaksimalkan melalui inovasi, sehingga bisa membantu ekonomi masyarakat sekaligus mendukung pemerintah dalam pengelolaan sampah,” imbuhnya.

‎Syamsul menjelaskan, kegiatan ini merupakan bentuk sinergitas Kadin KBB Bidang Pemberdayaan Perempuan bersama DP2KBP3A Kabupaten Bandung Barat, DLH Kabupaten Bandung Barat, dan KABUT Indonesia, guna mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan berbasis lingkungan, khususnya melalui bank sampah.

‎Hal senada disampaikan Plt Camat Cisarua, Iwan Mustawan Aziz yang mengapresiasi program kerja KABUT Indonesia. Ia menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan pengelolaan sampah berkelanjutan.

‎Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran Kadin Kabupaten Bandung Barat, Direktur Bank Sampah KABUT Indonesia, pengurus KABUT Indonesia, para nasabah bank sampah, serta unsur pemerintah Kecamatan Cisarua.***


‎HASANAH.ID – CISARUA. Persoalan sampah menjadi perhatian serius pemerintah daerah, termasuk pemerintah Kabupaten Bandung Barat, yangmana saat ini pemerintah maupun kelompok masyarakat fokus pada penguatan pengelolaan sampah dari sumbernya (rumah tangga) melalui pemilahan, penggunaan bank sampah, dan pembuatan rumah maggot.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Komunitas Peduli Bandung Utara (Kabut) Indonesia, H. Beny Rubini, menegaskan bahwa persoalan sampah harus dimulai dari hulu.

Pihaknya bersama Kadin Kabupaten Bandung Barat tengah menjajaki langkah-langkah strategis terkait pengelolaan sampah.

Menurut Beny, langkah awal yang paling strategis adalah pembentukan bank sampah di setiap desa, kemudian diperluas hingga ke tingkat RW.

‎“KABUT Indonesia siap membantu. Nantinya, sisa sampah atau residu akan kami sinergikan dengan UPTD sampah untuk proses pengangkutan,” ujar Beny dalam kegiatan sinergitas pengelolaan sampah di wilayah Bandung Utara Cisarua, Sabtu (14/2/2026)

‎Beny mengakui, bank sampah sebenarnya sudah lama dikenal masyarakat. Namun persoalan utamanya terletak pada minimnya pemilahan sampah dan rendahnya konsistensi menabung sampah.

‎Ia bahkan menyebut, jika program “menabung sampah jadi emas” dilakukan secara rutin sejak dulu, nilainya akan sangat terasa saat ini.

‎“Dulu harga emas per gram sekitar Rp500 ribu, sekarang sudah tembus Rp3 juta. Bisa jadi para nasabah bank sampah sekarang sudah sejahtera,” tuturnya.

‎Lebih jauh, Beny menyoroti kondisi Bandung Utara yang dinilainya telah bergeser ke ekonomi konvensional, bukan lagi ekologi ekonomi. Dampaknya, banyak investasi yang justru memicu kerusakan lingkungan.

‎“Kami berharap pemerintah mengubah arah pembangunan dari ekonomi konvensional ke ekologi ekonomi, agar investasi tetap berjalan tanpa merusak alam,” paparnya.

‎Ia juga berharap kehadiran Kadin Kabupaten Bandung Barat sebagai mitra strategis pemerintah dapat mengimbau para pengusaha agar lebih memperhatikan aspek lingkungan dalam berinvestasi di Bandung Utara.

‎“Kami siap bekerja sama dengan pemerintah, akademisi, media, komunitas, dan masyarakat untuk menjaga alam Bandung Utara,” tegas Beny.

‎Sebagai pegiat lingkungan, KABUT Indonesia telah menjalankan berbagai program, mulai dari pengelolaan bank sampah, penanaman pohon, hingga edukasi lingkungan ke sekolah-sekolah.

‎“Kami siap membantu pemerintah, baik di tingkat kecamatan maupun Kabupaten Bandung Barat, dalam menangani persoalan sampah,” tandasnya.

‎Sementara itu, Ketua Kadin Kabupaten Bandung Barat, H. Syamsul Ma’arief, menyampaikan apresiasi atas peran KABUT Indonesia yang konsisten dari gerakan lingkungan hingga pengelolaan bank sampah.

‎“Melalui bank sampah, kita bisa mengubah mindset masyarakat. Sampah harus dipandang seperti emas,” ujarnya.

‎Meski demikian, Syamsul menilai KABUT Indonesia perlu membenahi manajemen dan organisasi, mengingat posisinya sebagai organisasi sosial yang juga menjalankan aktivitas bisnis.

‎“Potensinya sudah ada, tinggal dimaksimalkan melalui inovasi, sehingga bisa membantu ekonomi masyarakat sekaligus mendukung pemerintah dalam pengelolaan sampah,” imbuhnya.

‎Syamsul menjelaskan, kegiatan ini merupakan bentuk sinergitas Kadin KBB Bidang Pemberdayaan Perempuan bersama DP2KBP3A Kabupaten Bandung Barat, DLH Kabupaten Bandung Barat, dan KABUT Indonesia, guna mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan berbasis lingkungan, khususnya melalui bank sampah.

‎Hal senada disampaikan Plt Camat Cisarua, Iwan Mustawan Aziz yang mengapresiasi program kerja KABUT Indonesia. Ia menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan pengelolaan sampah berkelanjutan.

‎Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran Kadin Kabupaten Bandung Barat, Direktur Bank Sampah KABUT Indonesia, pengurus KABUT Indonesia, para nasabah bank sampah, serta unsur pemerintah Kecamatan Cisarua.***


HASANAH.ID – CISARUA. Persoalan sampah menjadi perhatian serius pemerintah daerah, termasuk pemerintah Kabupaten Bandung Barat, yangmana saat ini pemerintah maupun kelompok masyarakat fokus pada penguatan pengelolaan sampah dari sumbernya (rumah tangga) melalui pemilahan, penggunaan bank sampah, dan pembuatan rumah maggot.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Komunitas Peduli Bandung Utara (Kabut) Indonesia, H. Beny Rubini, menegaskan bahwa persoalan sampah harus dimulai dari hulu.

Pihaknya bersama Kadin Kabupaten Bandung Barat tengah menjajaki langkah-langkah strategis terkait pengelolaan sampah.

Menurut Beny, langkah awal yang paling strategis adalah pembentukan bank sampah di setiap desa, kemudian diperluas hingga ke tingkat RW.

‎“KABUT Indonesia siap membantu. Nantinya, sisa sampah atau residu akan kami sinergikan dengan UPTD sampah untuk proses pengangkutan,” ujar Beny dalam kegiatan sinergitas pengelolaan sampah di wilayah Bandung Utara Cisarua, Sabtu (14/2/2026)

‎Beny mengakui, bank sampah sebenarnya sudah lama dikenal masyarakat. Namun persoalan utamanya terletak pada minimnya pemilahan sampah dan rendahnya konsistensi menabung sampah.

‎Ia bahkan menyebut, jika program “menabung sampah jadi emas” dilakukan secara rutin sejak dulu, nilainya akan sangat terasa saat ini.

‎“Dulu harga emas per gram sekitar Rp500 ribu, sekarang sudah tembus Rp3 juta. Bisa jadi para nasabah bank sampah sekarang sudah sejahtera,” tuturnya.

‎Lebih jauh, Beny menyoroti kondisi Bandung Utara yang dinilainya telah bergeser ke ekonomi konvensional, bukan lagi ekologi ekonomi. Dampaknya, banyak investasi yang justru memicu kerusakan lingkungan.

‎“Kami berharap pemerintah mengubah arah pembangunan dari ekonomi konvensional ke ekologi ekonomi, agar investasi tetap berjalan tanpa merusak alam,” paparnya.

‎Ia juga berharap kehadiran Kadin Kabupaten Bandung Barat sebagai mitra strategis pemerintah dapat mengimbau para pengusaha agar lebih memperhatikan aspek lingkungan dalam berinvestasi di Bandung Utara.

‎“Kami siap bekerja sama dengan pemerintah, akademisi, media, komunitas, dan masyarakat untuk menjaga alam Bandung Utara,” tegas Beny.

‎Sebagai pegiat lingkungan, KABUT Indonesia telah menjalankan berbagai program, mulai dari pengelolaan bank sampah, penanaman pohon, hingga edukasi lingkungan ke sekolah-sekolah.

‎“Kami siap membantu pemerintah, baik di tingkat kecamatan maupun Kabupaten Bandung Barat, dalam menangani persoalan sampah,” tandasnya.

‎Sementara itu, Ketua Kadin Kabupaten Bandung Barat, H. Syamsul Ma’arief, menyampaikan apresiasi atas peran KABUT Indonesia yang konsisten dari gerakan lingkungan hingga pengelolaan bank sampah.

‎“Melalui bank sampah, kita bisa mengubah mindset masyarakat. Sampah harus dipandang seperti emas,” ujarnya.

‎Meski demikian, Syamsul menilai KABUT Indonesia perlu membenahi manajemen dan organisasi, mengingat posisinya sebagai organisasi sosial yang juga menjalankan aktivitas bisnis.

‎“Potensinya sudah ada, tinggal dimaksimalkan melalui inovasi, sehingga bisa membantu ekonomi masyarakat sekaligus mendukung pemerintah dalam pengelolaan sampah,” imbuhnya.

‎Syamsul menjelaskan, kegiatan ini merupakan bentuk sinergitas Kadin KBB Bidang Pemberdayaan Perempuan bersama DP2KBP3A Kabupaten Bandung Barat, DLH Kabupaten Bandung Barat, dan KABUT Indonesia, guna mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan berbasis lingkungan, khususnya melalui bank sampah.

‎Hal senada disampaikan Plt Camat Cisarua, Iwan Mustawan Aziz yang mengapresiasi program kerja KABUT Indonesia. Ia menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan pengelolaan sampah berkelanjutan.

‎Kegiatan tersebut turut dihadiri jajaran Kadin Kabupaten Bandung Barat, Direktur Bank Sampah KABUT Indonesia, pengurus KABUT Indonesia, para nasabah bank sampah, serta unsur pemerintah Kecamatan Cisarua.***

  • Penulis: Unggung Rispurwo
expand_less