Breaking News
Trending Tags

GNB dan Megawati Soekarnoputri Bahas Kondisi Bangsa, Tekankan Pentingnya Nurani dalam Menjaga Persatuan

  • account_circle Bobby Suryo
  • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026 14:48 WIB
  • visibility 1.189
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Hasanah.id – Pertemuan penuh keakraban berlangsung antara jajaran Gerakan Nurani Bangsa (GNB) dengan Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, di Gedung Megawati Institute, Jalan Diponegoro Nomor 56, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (22/6/2026). Selama sekitar dua jam, kedua belah pihak berdialog mengenai berbagai persoalan kebangsaan, dinamika sosial, hingga tantangan pemerintahan yang tengah dihadapi Indonesia.

Silaturahmi tersebut merupakan bagian dari rangkaian agenda GNB dalam membangun komunikasi dengan para tokoh nasional yang memiliki pengalaman panjang dalam memimpin bangsa. Sebelumnya, organisasi tersebut juga telah melakukan pertemuan dengan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, serta Wakil Presiden ke-13 KH Ma’ruf Amin.

Mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menjelaskan bahwa dialog bersama Megawati telah dirancang sejak lama sebagai bagian dari upaya memperkuat ruang komunikasi antarfigur bangsa.

Menurutnya, pertemuan tersebut bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi kesempatan untuk saling bertukar pandangan mengenai perkembangan kehidupan bermasyarakat, situasi kebangsaan, serta arah penyelenggaraan pemerintahan.

Lukman menggambarkan suasana diskusi berlangsung hangat layaknya percakapan dalam sebuah keluarga besar. Para peserta, katanya, memiliki kepedulian yang sama terhadap masa depan Indonesia sehingga pembahasan berjalan terbuka dan konstruktif.

Sebagai wadah yang menerima berbagai aspirasi masyarakat, GNB juga memanfaatkan kesempatan itu untuk mengonfirmasi sejumlah informasi serta pandangan mengenai kondisi nasional kepada Megawati yang dinilai memiliki pengalaman luas dalam perjalanan politik Indonesia.

“Berbagai masukan dari masyarakat perlu kami padukan dengan pandangan tokoh bangsa yang memiliki rekam jejak panjang dalam mengelola kehidupan bernegara,” ujar Lukman.

Sementara itu, Ignatius Kardinal Suharyo menegaskan bahwa nama Gerakan Nurani Bangsa memiliki makna mendalam. Menurutnya, hati nurani harus terus diasah melalui dialog dan pertukaran gagasan agar mampu melihat persoalan bangsa secara objektif.

Ia menilai, diskusi yang dilakukan para tokoh bangsa menjadi sarana untuk mempertajam kepekaan moral sehingga setiap pandangan yang lahir benar-benar berorientasi pada kepentingan nasional, bukan didorong oleh kepentingan kelompok maupun emosi sesaat.

Dalam pandangan Kardinal Suharyo, nurani yang terpelihara akan membantu para pemimpin maupun tokoh masyarakat membaca realitas sosial secara jernih dan menghasilkan pemikiran yang bermanfaat bagi kehidupan berbangsa.

Pertemuan tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh lintas agama, akademisi, dan pegiat masyarakat, di antaranya Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Alissa Q. Wahid, Pendeta Gomar Gultom, Romo Franz Magnis-Suseno SJ, Karlina R. Supelli, Laode M. Syarif, Beka Ulung Hapsara, Andi Widjajanto, Francisia Seda, serta Yanuar Nugroho.

Kedatangan Megawati disambut Kepala Megawati Institute Hilmar Farid bersama Dewan Pembina Darmadi Durianto dan Bendahara Selly Andriany Gantina. Hadir pula Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Pendidikan Puti Guntur Soekarno serta politikus senior Hendrawan Supratikno yang mendampingi jalannya pertemuan.

Melalui dialog tersebut, GNB dan Megawati menegaskan pentingnya menjaga persatuan, memperkuat moral kebangsaan, serta merawat ruang diskusi yang sehat sebagai fondasi dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan Indonesia di masa mendatang.

Ikuti Kami Di:
Hasanah di Google News

  • Penulis: Bobby Suryo
expand_less