E-Voting Belum Siap: Denny Indrayana Soroti Risiko Pemilu dan Nepotisme Gibran 2024
- account_circle khasanah
- calendar_month Rabu, 26 Agt 2026 14:50 WIB
- visibility 21
- comment 0 komentar
- print Cetak

E-Voting Belum Siap: Risiko Pemilu Terpengaruh Gibran di 2024 dan Dampaknya untuk Pemilih
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dia juga mengingatkan bahwa teknologi tidak akan mengatasi masalah pemilu secara otomatis. Sistem yang canggih tetap harus dijalankan dan diawasi oleh manusia.
Denny memperbandingkan e-voting dengan sistem elektronik lain, seperti e-tender, dan menegaskan bahwa digitalisasi tidak menghilangkan kemungkinan terjadinya kecurangan.
Isu kedua yang diangkat adalah bahwa aturan pemilu kerap dapat dipelintir untuk keuntungan individu. Ia memperkenalkan istilah baru “meng-Gibran-kan”. “Dengan e-voting saja, aturan pun bisa di-Gibran-kan,” katanya.
Denny menolak segala bentuk praktik pemilu yang diarahkan demi kepentingan pribadi. Ia mengingatkan tentang polemik pembuktian ijazah SMA Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang berkaitan dengan kualitas demokrasi.
Ia menekankan bahwa nepotisme dalam pemilu merusak prinsip meritokrasi. “Nepotisme dalam pemilu mengikis nilai merit,” jelasnya.
Masalah standar moral dalam politik juga menjadi sorotan. Orientasi “yang penting menang” membuat prinsip dan etika demokrasi terpinggirkan. “Standar moral seolah tidak lagi menjadi prioritas,” ungkap Denny.
Dengan berbagai permasalahan tersebut, Denny berkesimpulan bahwa Indonesia belum siap menerapkan e-voting dalam kondisi saat ini. “Kita tidak siap dengan e-voting. Bahkan untuk calon tertentu pun, hal itu menjadi masalah,” tutupnya.
Penulis khasanah
jurnalis dan penulisan konten digital di Hasanah.id yang mengkhususkan diri pada peliputan tren global, gaya hidup modern, dan isu-isu internasional terkini.




