Breaking News
Trending Tags

KH Marsudi Syuhud Siap Awasi Tujuh Arahan Kiai Sepuh untuk Masa Depan Nahdlatul Ulama

  • account_circle khasanah
  • calendar_month Sabtu, 29 Agt 2026 11:52 WIB
  • visibility 3
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jakarta, Hasanah.id – Pondok Pesantren Lirboyo telah menjadi saksi penting bagi para Kiai Sepuh Nahdlatul Ulama (NU) dalam mengeluarkan seruan yang berisikan moral menjelang Muktamar ke-35.

Kiai Marsudi Syuhud, sebagai tokoh senior NU dan calon Ketua Umum PBNU, mengemukakan kesiapan untuk mendukung tujuh arahan vital yang ditetapkan.

Ia menjelaskan bahwa maklumat dari Masyayikh Lirboyo mencerminkan kegelisahan atas kondisi organisasi NU saat ini. Marsudi menegaskan pentingnya segera melakukan pembenahan di dalam tubuh NU, terutama menjelang Muktamar ke-35.

“Tujuh arahan dari kiai sepuh ini harus dilaksanakan dalam Muktamar kali ini. Sebab jika tidak dimulai dari sekarang, mau kapan lagi? Kalau bukan kita yang melakukan, mau siapa lagi?” serunya dalam keterangan pers pada 29 Agustus 2026.

Marsudi menegaskan bahwa maklumat dari Masyayikh Lirboyo merupakan ekspresi kekhawatiran akan dinamika yang terjadi di PBNU.

“Ini adalah bentuk kegelisahan para Masyayikh. Jangan biarkan para kiai sepuh menangis melihat keadaan PBNU saat ini. Semoga ini menjadi senjata pusaka untuk menyelamatkan NU dan jam’iyyah-nya,” lanjutnya.

Dia juga menyatakan bahwa tujuh arahan tersebut perlu menjadi pedoman bagi semua muktamirin untuk menentukan arah masa depan NU.

Arahan pertama menekankan penghentian politisasi dan transaksi politik dalam Muktamar, termasuk manipulasi dan politik uang.

Arahan kedua menolak intervensi serta kepentingan eksternal yang ingin memengaruhi agenda Muktamar ke-35 NU.

Ketiga, desakan untuk mengembalikan NU kepada Khittah 1926 sebagai organisasi yang independen.

Keempat, mengedepankan tradisi tabayyun, musyawarah mufakat, serta kebijaksanaan ulama sepuh di atas rivalitas politik praktis.

Kelima, menjaga persatuan jam’iyyah dengan menjauhi provokasi dan pola dukung-mendukung yang dapat merusak ukhuwah Nahdliyin.

Keenam, memastikan bahwa kepemimpinan PBNU di masa mendatang memiliki komitmen moral, akhlak, dan integritas yang sudah teruji.

Terakhir, ketujuh, menjadikan Muktamar sebagai momentum untuk kebangkitan moral serta menjaga marwah NU demi kemaslahatan umat dan bangsa.

Bagi Marsudi, tujuh seruan ini bukan semata pesan mendesak menjelang Muktamar, melainkan sebuah amanat yang perlu diwujudkan dalam menentukan arah kepemimpinan dan masa depan NU.

Ikuti Kami Di:
Hasanah di Google News

Avatar of khasanah

Penulis

jurnalis dan penulisan konten digital di Hasanah.id yang mengkhususkan diri pada peliputan tren global, gaya hidup modern, dan isu-isu internasional terkini.

expand_less