Muktamar NU 2026: Arah Baru dan Tantangan Organisasi di Tengah Dinamika Sosial Indonesia
- account_circle khasanah
- calendar_month Sabtu, 29 Agt 2026 18:57 WIB
- visibility 0
- comment 0 komentar
- print Cetak

Muktamar NU 2026: Revitalisasi Organisasi untuk Transformasi dan Keberlanjutan NU Masa Depan
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, Hasanah.id – Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) yang akan diselenggarakan pada tahun 2026 diharapkan menjadi lebih dari sekadar pemilihan kepengurusan baru. Forum ini perlu dijadikan momen untuk merumuskan arah organisasi yang jelas dan menjawab berbagai tantangan di masyarakat Indonesia yang semakin kompleks.
Hal ini disampaikan oleh Ainun Ni’am, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlotul Huffadz di Tabanan, Bali, dalam keterangan resminya. Ainun berpendapat bahwa ketua umum PBNU yang baru haruslah hasil dari proses Muktamar, bukan sekadar fokus pada pemilihan kepengurusan.
“Muktamar seharusnya tidak hanya dilihat sebagai seremonial pemilih, tetapi perlu ada penekanan pada kebutuhan organisasi dan masyarakat Indonesia,” ungkap Ainun.
Ainun juga menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi NU saat ini sangat berbeda dibandingkan dengan konteks saat organisasi tersebut dibentuk pada tahun 1926. Kompleksitas masalah sosial yang kian meningkat perlu diperhatikan dalam memilih pemimpin NU ke depan.
NU lahir dari kepedulian ulama terhadap pesantren dan telah memberikan kontribusi signifikan dalam berbagai aspek keilmuan dan kemanusiaan. Ainun berharap kepemimpinan mendatang mampu menangkap kebutuhan masyarakat yang beragam.
Penulis khasanah
jurnalis dan penulisan konten digital di Hasanah.id yang mengkhususkan diri pada peliputan tren global, gaya hidup modern, dan isu-isu internasional terkini.




