Prilly “Open to Work” untuk Gimmick Iklan? Intip Reaksi Netizen!
- account_circle Friska Putri Aryananta
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 34
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Kaya ngeledekin orang-orang yang lagi berjuang susahnya cari kerja,” tulis akun Nengauliaa12.
“Loh buat campaign pasta gigi? Kok bisa? mana kmren udah terlanjur percaya lagi..” tulis akun anodya.
“Pentingnya belajar etika bisnis,” ujar Halokeshia.
“In this economy.. g banget g lucu ah,” ujar bint_alaydrus96.
Kekecewaan juga datang dari mereka yang merasa isu ketenagakerjaan dijadikan gimmick pemasaran.
“Sebagai orang yang struggle nyari kerjaan, ini sih ngeselin. Tapi sebagai tim marketing, big applause! Banyak yang kegocek sama campaign-nya,” tulis akun tersebut.
Antara Strategi Marketing dan Sensitivitas Sosial
Kasus Prilly Latuconsina Open To Work ini akhirnya memunculkan diskusi yang lebih luas. Di satu sisi, ada yang mengapresiasi strategi marketing yang dinilai berhasil mencuri perhatian publik. Di sisi lain, banyak yang menyoroti pentingnya empati dan sensitivitas terhadap realitas sosial.
Terlepas dari pro dan kontra, fenomena ini menunjukkan betapa tipisnya batas antara strategi komunikasi brand dan isu sosial yang sensitif. Respons netizen pun menjadi cermin bahwa publik kini semakin kritis terhadap pesan yang dibawa oleh figur publik dan brand besar.
- Penulis: Friska Putri Aryananta



